Logo Senin, 19 November 2018
images

Ilustrasi rivalitas di tubuh ABRI. Foto: tirto.id

tabloidpewarna.com, JAKARTA - Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) era 1990-an diwarnai isu adanya kelompok yang disebut ABRI Merah-Putih dan ABRI Hijau. Pelabelan macam itu memang problematis. Menurut Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016), “[...] label serta isu ABRI Hijau versus ABRI Merah-Putih adalah sesuatu yang mengada-ada, menyesatkan dan kemudian dengan cepat berlalu" (hlm. 154-155).

Meski demikian, isu tersebut santer terdengar dalam percakapan politik zaman Orde Baru dan menjadi wacana yang diperdebatkan secara akademis. Aktor-aktor yang terlibat di dalamnya pun banyak yang turut buka suara setelah Soeharto tumbang.

ABRI Merah-Putih identik dengan sosok Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani alias Benny Moerdani. Panglima ABRI dari 1983 hingga 1988 itu terkenal angker bagi orang-orang Islam di Indonesia. 

Namanya kerap dikaitkan dengan Peristiwa Tanjung Priok (1984) dan bahkan dituduh punya rencana tersembunyi menghabisi gerakan Islam. Karena itu, Benny kerap dicap anti-Islam. Ia tentu tak sendirian. Ada Mayor Jenderal Sintong Panjaitan yang dianggap sebagai “orangnya Benny”.

“Saya bukan orangnya Pak Benny. Tetapi karena Pak Benny menjabat Panglima ABRI, saya orangnya Panglima ABRI,” aku Sintong dalam buku biografinya yang disusun Hendro Subroto, Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009: 464). 

Sintong juga mengaku dirinya lebih dekat dengan Try Sutrisno, kawan lama Benny. Ia dekat pula dengan sesama alumni Akademi Militer Nasional (AMN) yang lebih senior, seperti Edy Sudradjat (yang juga dicap sebagai orangnya Benny) dan Feisal Tanjung (yang dianggap bukan orangnya Benny). 

Tentang Sintong, Salim Said menyebut, “[...] menurut cerita teman-teman dekatnya, sebenarnya hanya seorang serdadu profesional yang bersahaja dan apolitis.”

Bermain Sentimen Agama

Orang-orang yang disiapkan Benny sebagai penerusnya di ABRI tak hanya Sintong. Dalam Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004), Kivlan Zen menyebut ada Letnan Jenderal Sahala Rajagukguk, Brigadir Jenderal Theo Syafei, Kolonel Luhut Panjaitan, dan Letnan Kolonel Romulo Robert Simbolon (hlm. 73).

Masih menurut Kivlan, apa yang disebut ABRI Merah-Putih adalah "tentara yang dianggap nasionalis dan tidak membawa bendera agama." Sementara yang disebut ABRI Hijau adalah “tentara yang berasal dari subkultur Islam dan dekat dengan tokoh-tokoh Islam seperti ulama, kyai dan pemimpin ormas Islam” (hlm. 77).

Pendapat Kivlan diperkuat Fadli Zon dalam Politik Huru-Hara Mei 1998 (2004). Menurutnya, “Istilah ABRI Hijau ini dipakai untuk menyudutkan mereka yang dekat dengan kalangan Islam, berarti tidak Merah Putih” (hlm. 21). 

Di zaman Benny Moerdani begitu berkuasa, kelompok yang disebut ABRI Hijau ini dianggap terzalimi. Mereka yang dianggap terzalimi itu di antaranya Mayor Jenderal Feisal Tanjung (yang lebih dari tiga tahun jadi Komandan Seskoad di Bandung) dan Mayor Jenderal Raden Hartono (yang jadi Panglima Brawijaya di Jawa Timur).

Feisal Tanjung berasal dari keluarga Muhammadiyah di pesisir barat Sumatra Utara. Sementara itu, menurut Salim Said, ibunda Raden Hartono adalah aktivis Aisyiyah (sayap perempuan Muhammadiyah) di Madura, Jawa Timur. 

Suatu waktu, Hartono pernah diproyeksikan menjadi Gubernur Jawa Timur, tapi batal. “Try Sutrisno memindahkan saya ke Bandung menjadi Kepala Sesko Gabungan,” kata Hartono seperti dicatat Salim Said (hlm. 155). 

Try juga pernah memerintahkan Hartono tak mendukung Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Tapi ia lebih menuruti kehendak Soeharto yang mulai mendukung ICMI. Soal ini Hartono mengaku, “Saya lebih takut kepada Pak Harto.”

Sepenuturan Kivlan Zen, sejak 1991 Hartono dihubungi oleh Prabowo, yang memintanya untuk mendukung Soeharto dalam menghadapi Benny kelak. Namun, waktu Edy Sudradjat jadi Panglima ABRI pada 1993, Hartono diberi jabatan Komandan Sesko ABRI yang dianggap sebagai jabatan buangan (hlm. 79-81). 

Setelah Feisal Tanjung menjadi panglima, Hartono diberi jabatan Gubernur Lemhanas lalu Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) ABRI dan akhirnya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Sebagai sesama ABRI Hijau, nasib Feisal Tanjung hampir sama dengan Hartono. Ia juga sempat jadi "orang buangan" sebelum ditunjuk sebagai Panglima ABRI.

Z.A. Maulani, yang juga digolongkan ABRI Hijau, membuat kesaksian positif tentang Feisal Tanjung. “[...] dulu di tahun 1960an yang namanya Kompi Tanjung itu kompi legendaris,” tulisnya dalam Melaksanakan Kewajiban Kepada Tuhan dan Tanah Air: Memoar Seorang Prajurit TNI (2005: 257). 

Kompi pimpinan Feisal memang legenda dalam operasi pemberangusan orang-orang komunis setelah peristiwa G30S. Berdasarkan prestasinya di masa muda, Maulani yakin akan kualitas seorang Feisal Tanjung, yang merupakan kawan satu angkatannya. Namun, pada akhir 1980-an, karier militer Feisal terhambat.

Dua Santri di Pucuk ABRI

Hartono dan Feisal Tanjung adalah dua jenderal yang didekati Prabowo Subianto ketika jadi perwira menengah dan berkonflik dengan Benny Moerdani. Setelah Peristiwa Santa Cruz Dili 1991, orang-orang dari golongan yang disebut ABRI Merah-Putih mulai suram kariernya.

“Atas perintah Presiden Soeharto dilaksanakan sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang dipimpin Mayjen Feisal Tanjung. Sidang DKP memutuskan pemberhentian dari dinas militer Mayor Jenderal Sintong Panjaitan (selaku) Panglima KODAM IX Udayana yang membawahi Koopskam Timor Timur,” tulis Kivlan Zen (hlm. 76-77). 

Setelah persidangan itu, Feisal makin dikenal Soeharto. Feisal pun dijadikan Panglima ABRI pada pertengahan 1993. Sebelumnya, ia menjabat Kepala Staf Umum ABRI pada pertengahan 1992.

Moerdani betul-betul hilang dari jabatan di dunia pertahanan dan militer setelah 1993. Di masa ini, banyak perwira yang dianggap dekat dengan Benny tidak memperoleh posisi strategis di tubuh ABRI. 

Luhut Binsar Panjaitan juga seperti orang buangan. Dia dijadikan Komandan Korem di Madiun lalu Komandan Pusat Persenjataan Infanteri (Pussenif). Setelah 1993, dia tak pernah mengisi jabatan strategis di ABRI, meski belakangan jadi Jenderal Kehormatan. 

Menurut Salim Said, “[...] mereka yang disingkirkan Soeharto [pada era 1990-an] menyebut diri mereka ABRI Merah Putih dan menggelari lawannya, yakni mereka yang dipakai Soeharto, sebagai ABRI Hijau” (hlm. 154).

Ketika Hartono dilantik sebagai KSAD pada 8 Februari 1995, ada dua jenderal ABRI Hijau yang menduduki jabatan tertinggi di ABRI. Dua jenderal dari keluarga Muhammadiyah itu pun dijuluki jenderal santri.

“Untuk pertama kalinya [Soeharto] mendudukkan dua perwira tinggi yang dekat dengan kalangan Islam pada puncak pimpinan ABRI,” tulis Kivlan Zen. (sumber: tirto.id)