Logo Senin, 19 November 2018
images

Prabowo dan Sandiaga Uno. Foto: rakyatku.com

tabloidpewarna.com, JAKARTA - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama menggelar Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Menara Peninsula, Jakarta Barat, pada 27-29 Juli 2018. Hasil ijtima merekomendasikan nama Prabowo Subianto sebagai capres serta Ustaz Abdul Somad dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri sebagai pendamping Prabowo.

Rekomendasi itu disampaikan ke sejumlah partai, yakni Gerindra, PKS, dan PAN. Ketiga partai itu turut diundang dalam pembukaan Ijtima Ulama.

Meski Prabowo mengapresiasi rekomendasi itu, ia tak bisa berjanji akan mengikutinya. “Saya sudah menerima hasil Ijtima. Dalam waktu dekat kami akan membahasnya,” kata Prabowo saat bertandang ke DPP PKS pada 30 Juli 2018.

Sikap Gerindra itu berbeda dari PKS. Sedari awal PKS menegaskan bakal mengawal hasil Ijtima Ulama agar bisa dilaksanakan secara menyeluruh.

Sikap PKS itu tak lepas dari nama Salim Segaf Al-Jufri, yang mengendalikan kekuasaan tertinggi di PKS.

Sejak rekomendasi Ijtima Ulama, Presiden PKS Sohibul Iman mengatakan PKS akan mengawal terus hasil tersebut. “Kami akan mengomunikasikannya dengan partai yang hadir dalam Ijtima,” ujarnya pada 30 Juli 2018.

Tapi, upaya mengamankan rekomendasi untuk melawan koalisi Jokowi itu tak berjalan mulus. Di tengah jalan, Partai Demokrat merapat dengan menyodorkan nama Agus Harimurti Yudhoyono lewat Susilo Bambang Yudhoyono ke Gerindra sebagai pendamping Prabowo.

Pertemuan perdana SBY dan Prabowo dilakukan pada 24 Juli 2018 di rumah SBY di Kuningan. Pertemuan selanjutnya, SBY menemui Prabowo di Kertanegara pada 30 Juli 2018. SBY menegaskan bahwa Prabowo adalah calon presiden yang akan mereka usung. Soal wapres, SBY menyerahkannya pada Prabowo.

Malam harinya, SBY dan PKS bertemu di Hotel Grand Melia. Pertemuan itu tidak menghasilkan apa-apa.

Alasan “Memaksa” Rekomendasi Ijtima
Menjelang hari-hari terakhir pendaftaran capres dan cawapres, Prabowo memastikan tidak menggunakan rekomendasi Ijtima Ulama. Meski demikian, PKS masih terus mendesak agar rekomendasi Ijtima tetap diakomodasi, khususnya Salim Segaf Al-Jufri sebagai cawapres.

Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyudin mengatakan rekomendasi Ijtima adalah amanah yang harus ditunaikan dengan melihat PKS sebagai "partai dakwah." Mengklaim sebagai "partainya para ulama," Suhud berkata, "posisi kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan Ijtima."

Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal menyodorkan alasan mengapa PKS tetap memegang hasil Ijtima karena "terbentuknya PKS tidak lepas dari ulama dan dukungan umat."

Bahkan, sekalipun di ujung deklarasi muncul nama Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno, PKS masih ngotot mendukung cawapres yang direkomendasikan Ijtima.

“Sampai detik ini kami masih memperjuangkan,” kata Direktur Politik PKS Pipin Sopian, Kamis kemarin.

Selain PKS, PAN adalah salah satu partai yang getol mendorong rekomendasi Ijtima. Namun, mereka memilih Ustaz Abdul Somad (UAS) yang mendampingi Prabowo. PAN punya alasan yang lebih realistis.

Ketua DPP PAN Yandri Susanto mengatakan nama UAS merupakan figur yang lolos dari kriteria cawapres PAN serta memiliki popularitas dan elektabitas yang baik.

“Semalam [men]diskusikan cawapres, karena sekarang sudah dibatasi waktu pendaftaran, sudah mau habis. PAN masih minta Bang Zul [Zulkifli Hasan] dan Abdul Somad sebagai cawapres Prabowo,” kata Yandri.

Ijtima Ditelikung Sandiaga
Namun, nama Sandiaga Uno menguat sebagai cawapres Prabowo. Soal pilihan itu, PKS sudah jauh hari mewanti-wanti, bahkan mengancam tak menjamin dukungan ulama terhadap Prabowo jika pilihannya berbeda dari hasil Ijtima.

"[Soal mengarahkan suara ulama atau umat Islam kepada Prabowo] tergantung siapa yang dipilih [sebagai cawapres]. Umat, kan, punya pilihan," kata Ketua DPP PKS Ledia Hanifa kepada Tirto, 2 Agustus 2018.

Namun, pada akhirnyam ancaman itu tak bertaring. PKS tidak punya pilihan ketika Prabowo memutuskan Sandiaga menjadi cawapres. Presiden PKS Sohibul Iman membuat alasan menerima Sandiaga karena Sandiaga adalah "seorang santri."

“Kami ingin menggandengkan kepemimpinan Pak Prabowo dengan kepemimpinan Islam atau kepemimpinan santri. Dan setelah kami ikhtiarkan, kami menemukan saudara Sandiaga Salahudin Uno sebagai pasangan."

"Mungkin beliau dalam kacamata kami selama ini tidak terkategori sebagai santri, tetapi saya kira beliau adalah seorang yang memang modern tetapi mengalami proses spiritualisasi dan Islamisasi,” ujar Sohibul.

Menanggapi cawapres pilihan Prabowo, Juru Bicara GNPF Ulama Slamet Maarif mengatakan Ijtima tidak memberikan rekomendasi kepada Sandiaga Uno. Ia menegaskan bahwa formasi yang ditawarkan Ijtima adalah nasionalis–religius atau tentara–ulama.

“Ini prinsip kami,” kata Slamet lewat pesan singkat.

Prinsip itu jelas berkebalikan dengan pilihan Prabowo, PKS, dan PAN, koalisi yang masih bertahan sejak Pilpres 2014, yang berhasil memenangkan Anies Baswedan - Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. (sumber: tirto.id)