Logo Senin, 19 November 2018
images

Amir Sjarifoeddin (kiri berdasi kupu-kupu) suatu ketika berbincang dengan Soekarno dan Jenderal Sudirman. (Foto: Sejarah Indonesia)

TABLOIDPEWARNA.com - Akhir hidup Perdana Menteri kedua Indonesia, Amir Sjarifoeddin Harahap amat pahit. Turut berjuang bersama empat serangkai Soekarno-Hatta-Syahrir dalam proses kemerdekaan dan revolusi bangsa, namun Amir meninggal secara mengenaskan.

Ia tewas di tangan sesama anak bangsa, yakni tentara Indonesia yang ditugaskan untuk menembak dirinya. Sejumlah laporan menyebut ia ditembak pada bagian kepala oleh pistol anak buah Jenderal Gatot Subroto di Surakarta pada 19 Desember 1948.

Namun, ada cerita yang menjadi sisi lain di detik-detik ajak menjemputnya. Sebelum ia ditembak, Amir sempat meminta diberikan kesempatan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saat menyanyikan lagu tersebut, Amir pun memegang injil di tangannya. Sesaat kemudian, peluru pun menerjang kepalanya hingga meninggal.

Sosok Amir Sjarifoeddin dalam blantika sejarah bangsa, khususnya sejarah yang direproduksi oleh penguasa orde baru, digolongkan sebagai kelompok kiri alias komunis. Memang, Amir dekat dengan Muso, pemimpin gerakan pemberontakan PKI di Madiun yang tak sepaham dengan pemerintahan Soekarno-Hatta. Kedekatannya tersebutlah yang membuat Amir dituduh terlibat bahkan sebagai aktor peristiwa Madiun 1948, kejadian yang membuat dirinya dihukum tembak, meski Presiden Soekarno saat ini tak menyetujui eksekusi tersebut.

Amir terlahir sebagai seorang Muslim. Namun pada usia 24 tahun dirinya dibaptis menganut agama Kristen Protestan. Masa mudanya amat aktif dalam pergerakan nasional, bersama para founding father negara lainnya. Ia pun terlibat dalam kongres pemuda 28 Oktober 1928 yang merupakan salah satu inisiatornya.

Semasa menjadi mahasiswa di Recht Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum) Batavia, amat dekat dengan seorang profesor yang bernama J.M.J Schepper. Meski kala itu masih menganut Islam, namun Amir rajin mengikuti kegiatan diskusi dan penelaahan Alkitab yang dilakukan sekelompok mahasiswa Kristen di kawasan Jalan Kebon Sirih nomor 44 Batavia. Kelompok sel ini menamakan dirinya Christelijke Studenten op Java Vereeniging (CSV), cikal bakal organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Amir makin tertarik menggali Alkitab. Seorang sahabatnya bernama Ferdinand Tampubolon memberikannya sebuah Alkitab. Ia pun tekun membaca kitab suci tersebut. Barangkali, perenungannya akan makna dan isi Alkitab yang membuatnya bersedia dibaptis menjadi Kristen oleh Pendeta Peter Tambunan di gereja Kernolong, Batavia.

Dari sejumlah catatan, beralihnya Amir menjadi Kristen kemungkinan karena ia menilai ada hubungan antara ajaran Komunis yang ia dalami dan geluti semasa bergerakan dengan isi Alkitab. Ia menafsirkan bahwa nilai dan ajaran Alkitab tak bertolak belakang dari nilai komunis yang sama-sama antipenjajahan dan penindasan manusia. Dalam konsep teologi pembebasan hal tersebut memang klop.

Pemahaman Amir, antara komunisme dengan kekristenan tak perlu dibenturkan. Keduanya bergerak beriringan dan saling mengisi. Toh, sebagai seorang yang sosialis kiri, Amir tetap mempercayai adanya Tuhan. Komunisme menurutnya bukan berarti tidak percaya hakekat adanya Tuhan.

Kian mendalami Alkitab dan persinggungannya dengan komunis, justru membuat Amir makin mendalami isi Alkitab. Sesekali ia menjadi pengkhotbah dalam pertemuan dan kebaktian mahasiswa. Namun, selalu saja ia mengaitkan bahwa Kekristenan adalah sebuah pembebasan manusia dari perbudakan dan penindasan penjajahan, sesuatu yang amat kontekstual karena saat ini Indonesia masih dijajah oleh Belanda.

Pemahaman Amir, Kekristenan yang sering dilambangkan dengan salib (kayu menyilang vertikal-horizontal) diterjemahkannya dalam persfektif keseimbangan hubungan antar manusia dan manusia dengan Tuhan.

Amir, sang orator brilian yang tak punya rasa takut mengutuk penjajah Belanda maupun Jepang, meninggalkan bumi kelahirannya dengan pengakuan iman Kristen.

"Orang yang beragama dan berhubungan baik dengan Tuhan, haruslah memiliki hubungan baik dan kepedulian dengan sesama manusia. Sedangkan kepada sifat Tuhan yang tak tampak oleh mata saja kita mesti berhubungan baik, apalagi dengan manusia yang ada di sekeliling kita". (disarikan dari banyak sumber)