Logo Senin, 19 November 2018
images

Ilustrasi layanan surat elektronik gmail. Foto: geek.com

TABLOIDPEWARNA.COM - Satu hari di penghujung 1971, saat internet belum ada. Seorang pria menulis pesan di komputer. Pesan yang tertulis hanya urutan awal tombol pada keyboard komputer “QWERTYUIOP”. Pria tersebut mengirim rangkaian huruf itu ke dirinya sendiri via jaringan komputer.

Pria itu adalah Ray Tomlinson, pekerja pada Bolt, Beranek & Newman, salah satu perusahaan kontraktor di ARPANET, cikal-bakal pengembang jaringan internet Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS).

Pesan singkat tersebut menjadi sejarah bagi teknologi komunikasi masa kini. Ini mirip saat Martin Cooper, penemu ponsel mengucapkan kata-kata singkat saat menguji coba ponsel pertama di dunia pada 1973.

Pesan yang ditulis Ray Tomlinson itu adalah cikal bakal dari sistem yang kita kenal saat ini dengan nama email. Email atau electronic mail alias surat elektronik menjadi penantang dari keberadaan surat konvensional yang selama berabad-abad sebagai alat komunikasi manusia.

Tomlinson mencetuskan penggunaan tanda “@” guna membedakan dari mesin apa pengguna mengirimkan pesan. Ray Tomlinson lahir di Amsterdam, New York, AS pada 1941. Ia memperoleh gelar sarjana teknik elektrik dari Rensselaer Polytechnic Institute pada 1964. Ia mendapatkan gelar master di bidang yang sama dari Massachusetts Institute of Technology. Sejak 1960-an Tomlison memilih bekerja pada Bolt, Beranek & Newman yang kemudian menjadi bagian penting bagi hidupnya dan umat manusia.

Bekerja di Bolt, Beranek & Newman, Roy Tamlinson banyak berhubungan dengan jaringan ARPANET. Sebelum akhirnya menciptakan email, Tamlinson mengembangkan sistem operasi bernama TENEX. Di dalam TENEX, tercakup program kontrol ARPANET. Tamlinson menulis program bernama CPYNET, program transfer file yang memanfaatkan jaringan ARPANET.

Setelah TENEX dan CPYNET, Tomlinson memodifikasi program cikal-bakal email bernama SNDMSG. Hasil modifikasi itu akhirnya dapat digunakan untuk mengirim pesan antar komputer, asalkan terhubung di jaringan yang sama yakni ARPANET.

“Jangan bilang siapa-siapa! Ini bukan yang seharusnya kita kerjakan,” kata Tomlinson mengomentari hasil karyanya itu.

Sebelum Tamlinson sukses memodifikasi SNDMSG, pesan yang dikirim via komputer hanya bisa diterima di komputer yang sama. Pesan atau email buatan Tamlinson belum bisa seperti saat ini yang multi guna dan terkoneksi luas dengan internet global.

Penemuan Email dan Kontroversi Para Penciptanyashare infografik

Namun, karya Tomlinson tak bisa dianggap remeh dan diapresiasi banyak pihak. Pada 2011, Tomlinson masuk di urutan-4 “MIT 150” tentang inovator terhebat. Setahun berselang namanya diabadikan Internet Hall of Fame.

Apresiasi kerja Tomlinson menciptakan email dan tanda “@” makin tinggi. Terutama ketika ia meninggal pada 5 Maret 2016. Gmail, layanan yang pada Februari 2016 memiliki 1 miliar pengguna aktif, berkicau soal rasa terima kasihnya pada Tomlinson.

“Terima kasih, Ray Tomlinson, telah menciptakan email dan menempatkan tanda @ di peta,” kicau Gmail memberi penghormatan pada Tomlinson.

Kicauan Gmail dan pemberitaan media tentang meninggalnya pencipta email telah mengusik Shiva Ayyadurai. Ayyadurai menyatakan bahwa “pencipta email masih hidup” melalui tulisan yang diterbitkan di blog pribadinya.

Shiva Ayyadurai lahir di Bombay, India, 2 Desember 1963. Pada 1978, Ayyadurai mengikuti kegiatan summer program di Courant Institute of Mathematical Science, New York University. Kegiatan itu, jadi salah satu tahap awal Ayyadurai mengenal dan memahami pemrograman komputer. Saat masih berstatus sebagai siswa pada Livingston High School, Ayyadurai memilih menjadi sukarelawan di University of Medicine and Dentistry of New Jersey.

Menjadi sukarelawan di University of Medicine and Dentistry of New Jersey, Ayyadurai menciptakan program komputer bernama “Email.” Melihat laman resmi Library of Congress, program komputer itu dideskripsikan sebagai program sistem surat elektronik. Pada 1981, ia memperoleh copyright atas karyanya.

“Saya menamai program EMAIL, kata yang belum pernah digunakan dalam bahasa Inggris, dan saya memperoleh copyright,” kata Ayyadurai dengan tegas dalam unggahan blognya.

Ayyadurai menyatakan bahwa ciptaan Tomlinson tak bisa disebut email. Itu hanya bisa disebut program pengirim pesan biasa. Menurut Ayyadurai, email merupakan sistem yang mengandung Inbox, Outbox, Drafts, Folders, Attachments, Carbon Copies, Groups, Forwarding, Reply, Delete, Archive, Sort, hingga Bulk Distribution.

Klaim Ayyadurai menjadi pencipta email banyak diberitakan media, salah satunya oleh The Washington Post. Dalam pemberitaan tentang Museum Smithsonian yang membeli dokumen terkait program bernama Email, The Washington Post mengatakan bahwa Ayyadurai adalah sosok pencipta email. Namun, The Washington Post telah menganulirnya. Pernyataan bahwa Ayyadurai pencipta email “telah dikoreksi.”

Ayyadurai hanya menciptakan program komputer bernama Email, bukan menciptakan email dalam arti sebenarnya. Namun, idenya tentang Inbox, Outbox, Drafts, Folders, Attachments, Carbon Copies, Groups, Forwarding, Reply, Delete, Archive, Sort, hingga Bulk Distribution tak bisa diabaikan.

Gmail

Setiap orang yang mengakses internet, hampir pasti memiliki email. Email jadi gerbang menggunakan layanan-layanan lain di internet. Gmail kini jadi layanan email yang banyak dipilih pengguna internet.

Gmail, layanan email dari Google, diluncurkan tepat pada “April Fool Day” 2004. Larry Page, pendiri Google, mengatakan bahwa Gmail diciptakan atas banyaknya keluhan pengguna Google yang menyatakan bahwa layanan email yang telah ada berkualitas buruk. Page pun mengatakan bahwa pencarian ialah aktivitas kedua pengguna di internet, sementara email nomor satu.

Paul Buchheit, karyawan nomor 23 Google jadi penyelamat. Ialah sosok pencipta Gmail. Buchheit merupakan lulusan Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio.

“Saya mulai mencoba menciptakan program email sebelum bergabung ke Google, mungkin sekitar tahun 1996,” terangnya pada Time. “Saya memiliki ide bahwa saya ingin menciptakan email berbasis web,” tambahnya.

Keinginan Buchheit akhirnya terkabul setelah ia bergabung ke Google. Gmail, yang diberi nama alias Caribou, dikerjakan Buchheit dalam beberapa minggu. Menurut penuturannya pada Time, Buchheit mengerjakan Gmail hingga merasa bosan.

Rasa bosannya nampaknya terbayar oleh pengguna Gmail yang begitu besar hari ini. Email kini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari banyak orang di era serba digital dan internet yang makin masif. (sumber: tirto.id)