Logo Jumat, 23 Agustus 2019
images

Presiden Sukarno saat disambut tarian tortor. Foto: internet

TABLOIDPEWARNA.com - Presiden Sukarno beberapa kali melawat ke Jepang. Kunjungan terakhirnya pada Januari 1965 menghadapi masalah ketika akan kembali ke Indonesia. Petugas keamanan memberitahukan bahwa rute terbang melalui Okinawa, Hongkong, dan Manila, tidak aman.

Setelah menerima laporan itu, Sukarno memanggil dan bertanya kepada Kapten Partono, pilot pesawat jet Garuda: apakah mampu untuk menerbangkan rombongan presiden secara nonstop melalui rute di luar peta penerbangan, yakni dari Tokyo langsung ke Biak di Irian Barat (Papua).

“Kapten Partono menyatakan kesanggupannya untuk menerbangkan pesawat melalui rute yang panjang di barat daya Pasifik itu, walaupun penerbangan semacam itu, dengan membawa presiden, biasanya didahului dengan beberapa kali penerbangan penjajakan,” kata Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno. Saat itu, Ganis menjabat deputi menteri dan juru bicara Departemen Luar Negeri.

Tanpa persiapan sebelumnya, dan dengan diam-diam melalui rute yang panjang Tokyo-Biak, Kapten Partono berhasil menerbangkan rombongan presiden pada malam hari 20 Januari 1965. Pesawat mendarat dengan aman pada subuh.

Di Biak, Sukarno pindah pesawat dan sampai di Jakarta dengan selamat sebelum pukul delapan pagi. Kapten Partono memimpin kembali penerbangan melalui rute itu pada perjalanan berikutnya.

“Keberaniannya mengambil risiko semacam itu telah mendorong Presiden Sukarno untuk mengangkat dia sebagai Menteri Perhubungan Udara. Dan di sini terlihat lagi kepercayaan presiden kepada semangat pemuda,” kata Ganis.

Partono diangkat menjadi Menteri Perhubungan Udara dalam Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang Disempurnakan pada 2 April 1965 sampai 28 Maret 1966.

Kehebatan Partono dalam menerbangkan pesawat juga dicatat oleh novelis N.H. Dini. Dalam Keberangkatan, Dini yang pernah menjadi pramugari Garuda Indonesia Airways (GIA), mencatat bahwa Kapten Partono berhasil membawa pesawatnya selamat sampai di tanah kembali setelah terbang dengan satu mesin.

Partono Parwitokusumo lahir di Semarang pada 29 Juni 1924. Setelah lulus SMA tahun 1945, dia melanjutkan ke sekolah penerbang. Dia memiliki ijazah penerbang militer (Groet Militair Brevet atau Brevet Penerbang Tingkat Atas) dan ijazah penerbang sipil (SOPL).

Partono kemudian bergabung dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Dia termasuk generasi kedua AURI yang mengikuti pendidikan penerbang di India dan Andir, Bandung. Mereka lalu ditempatkan di sejumlah skadron AURI.

Generasi kedua AURI itu, jumlah keseluruhannya 20 penerbang. Mayoritas pindah ke Garuda. Ada yang ke Curug sebagai instruktur. Yang tetap di AURI hanya satu, saudara Bimo. Sedangkan penerbang eks Indonesian Airways yang terus di Garuda adalah Suharsono Hadinoto,” kata Wiweko Supono, Direktur Utama Garuda Indonesia (1968-1984), dalam Pengisi Kemerdekaan Bangsa, terbitan Divisi Umum Garuda Indonesia tahun 1995.

Di AURI, Partono sempat memimpin Sekolah Penerbang Lanjutan di Andir dengan pangkat Letnan Udara II. Jabatan terakhir di AURI sebagai Wakil Komandan Kesatuan Pendidikan 007 di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dengan pangkat Kapten Udara.

Partono kemudian pindah ke GIA dan mulai kerja pada 1 Mei 1954 sebagai kapten pesawat De Havilland Heron dan Dakota.

Antara, 15 Juni 1955, melaporkan, Partono bersama empat pilot, R. Soehardjono Teksosoehardjo, Soedjalmo, Soedarmo, dan Suharso Hadinoto, untuk pertama kalinya dilantik sebagai kapten penerbang (gezagvoerders) dalam perusahaan penerbangan GIA. Kelimanya dinaikkan pangkatnya dari penerbang kelas empat menjadi kelas tiga.

Pelantikan itu dihadiri oleh pimpinan dan direksi (salah satunya Mr. Wilopo), serta instruktur penerbangan. Dalam pidato pelantikan, Presiden Direktur GIA, Ir. Sutoto, mengatakan bahwa maksud pelantikan itu agar penerbangan GIA dilakukan sepenuhnya oleh penerbang-penerbang Indonesia sendiri.

“Para kapten penerbang yang baru itu harus berhasil menunjukkan kegiatan dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan kedudukannya yang baru itu dan kedudukannya sebagai pelopor bangsanya,” kata Sutoto dikutip Antara.

Pelantikan itu awalnya akan dilakukan pada April 1955. Namun kelima penerbang itu sibuk mengangkut delegasi Konferensi Asia Afrika dari Jakarta-Bandung dan sebaliknya.

Karier Partono sampai puncak. Dia menjabat Presiden Direktur Garuda pada 1961-1965. Setelah itu, dia diangkat menjadi Menteri Perhubungan Udara karena berhasil menerbangkan rombongan Presiden Sukarno dari Tokyo ke Biak.

Partono meninggal dunia akibat serangan jantung pada 12 Juni 1988 di RS Pertamina, Jakarta. Ketika itu dia menjabat Presiden Direktur PT Dacrea Avia. Salah satu proyek perusahaan ini bersama Konavi dan Cakar Bumi adalah membangun Terminal II Bandara Soekarno-Hatta.

Partono dimakamkan di Solo. (sumber: historia.id)