Logo Senin, 14 Oktober 2019
images

DN. Aidit, Ketua CC Partai Komunis Indonesia (PKI). Foto: tribunnews.com

TABLOIDPEWARNA.com - Apakah Ketua CC Partai Komunis Indonesia D.N. Aidit merokok? Pertanyaan ini menjadi sangat problematis ketika ia disangkutpautkan dengan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noor yang sempat jadi tontonan wajib di era Orde Baru dan tetap jadi kontroversi hingga hari ini. Mengapa problematis? Karena jawaban atas pertanyaan itu selalu pula dihubungkan dengan kecenderungan rujukan politik seseorang serta cara pandangnya terhadap peristiwa G30S 1965.

Film produksi tahun 1984 yang diputar sejak 1985 sampai 1997 itu selalu disiarkan di tengah keluarga setiap 30 September malam. Bagi anak-anak sekolah ada kewajiban menulis resensinya. Sehingga film dengan narasi tunggal peristiwa pembunuhan perwira tinggi Angkatan Darat itu lebih berfungsi sebagai indoktrinasi ketimbang film yang menghibur.

Setelah Soeharto lengser, sebagai simbol kejatuhan Orde Baru, tak serta merta film Pengkhianatan G30S/PKI lengser juga dari layar televisi. Gagasan untuk memutarnya kembali di TV atau nonton bareng tetap selalu ada. Apalagi dalam hajat kontestasi politik isu komunisme menjadi isu yang selalu dipergunakan untuk membangkitkan sentimen ketakutan warga dan juga kebencian terhadap lawan politik.

Dampak dari narasi tunggal versi pemerintah Orde Baru mengenai peristiwa G30S menjadikan film tersebut sebagai rujukan kebenaran yang diterima secara umum. Padahal ada beberapa adegan film yang tak sesuai fakta, antara lain tentang bagaimana para jenderal dibunuh, situasi di Lubang Buaya pada saat pembunuhan terjadi, cerita penemuan mayat para jenderal dan adegan Aidit merokok tentunya. Soal Aidit merokok ini menjadi perbincangan luas di kalangan warganet. Karena kebenaran tentang hal tersebut menjadi standar kualitas kebenaran film ini.

Jelang 30 September 2017 lalu misalnya, ketika publik dihebohkan oleh rencana nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI yang digagas oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, beredar sebuah foto Aidit berjas lengkap dengan rokok terselip di jarinya. Tak jelas sumber foto itu dari mana. Tak ada kredit foto dan keterangannya.

Wartawan Syub’ah Asa yang memerankan sosok Aidit. Adegan merokok berlangsung ketika Ketua CC PKI itu memimpin rapat jelang peristiwa penculikan perwira tinggi Angkatan Darat. Kamera mengambil gambar bibir Aidit dari jarak dekat, memperlihatkan gerakan bibir yang sedang mengisap rokok dan berbicara kepada rekan separtai peserta rapat. Aidit digambarkan tegang. Lagi-lagi pertanyaannya apakah Aidit merokok? Atau memang bukan seorang perokok?

Iwan Hignasto, anak Aidit menuturkan pernah melihat ada satu pak rokok di meja kerja Aidit. Menurutnya rokok tersebut hadiah dari kawan Aidit dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). “Nama rokoknya Double Happiness. Yang aku lihat cuma satu. Tempatnya bukan box tapi di dalam tempat rokok yang bundar sebesar cangkir,” kenang Iwan. Rokok itu menurutnya hanya disimpan begitu saja. Iwan tak pernah melihat ayahnya mengisap rokok pemberian dari anggota PKT itu.

Iwan juga punya pengalaman lain. Dia pernah diajak serta ayahnya pergi ke Bali untuk sebuah tugas partai selama seminggu. Selama mengikuti perjalanan tugas ayahnya, tak sekalipun Iwan melihat ayahnya mengisap rokok. “Nggak lihat. Berhari-hari semobil sama dia sama sekali nggak ngerokok,” kata Iwan.

Namun Iwan juga tak menampik kemungkinan kalau sesekali ayahnya merokok. “Kalau sekali-kali ngerokok mungkin lho. Walaupun aku belum pernah melihat,” ujarnya.

Ibaruri anak tertua Aidit memperkuat keterangan adiknya. Ibaruri yang kini bermukim di Paris tak pernah melihat ayahnya merokok. “Setahuku memang bukan perokok. Aku juga gak pernah lihat misalnya dia menyimpan rokok, atau pegang rokok atau meminta orang atau pengawalnya untuk membelikan rokok,” ujar Ibaruri melalui pesan Whatsapp.

Mendiang Trikoyo Ramidjo, salah satu saksi yang pernah bergaul dekat dengan Aidit di era 1950-an juga pernah menuturkan kesaksiannya kalau Aidit tidak pernah terlihat merokok. Menurutnya, partai menegakkan aturan tegas mengenai kebiasaan merokok dan hubungan affairs di luar pernikahan.

Dalam soal rokok, Dewan Harian Politbiro CC PKI 5 Januari 1959 pernah menerbitkan resolusi untuk “menghentikan merokok atau sekurang-kurangnya mengurangi rokok.” Resolusi itu ditujukan demi menggalang dana dari pemimpin dan anggota PKI yang memiliki kebiasaan merokok untuk segera berhenti merokok dan menyerahkan uang rokoknya buat dana kongres.

Terlepas dari kontroversi soal rokok Aidit dan kebenaran film ini, sutradara Hanung Bramantyo mengakui kualitas film ini secara sinematografis memang layak diacungi jempol. “Film yang dikerjakan secara sungguh-sungguh, serius, dengan dukungan dana yang besar yang tidak akan mungkin terulang lagi di masa depan,” katanya.

Film Arifin ini menurut Hanung memperoleh dukungan modal besar yang terealisasi pada anggaran yang tak terbatas, berikut pula segala dukungan perangkat militer, senapan, tank, akses syuting di seluruh rumah korban, sehingga sangat memberikan kemerdekaan bagi Arifin untuk merealisasikan gagasannya. “Tidak heran jika secara sinematik Arifin berhasil menghadirkan nuansa Jakarta, khususnya Menteng dan Lubang Buaya secara meyakinkan dan terkesan betulan,” pungkas sutradara film Bumi Manusia itu.

Mungkin karena kemampuan menghadirkan gambaran yang nyaris seperti betulan itulah yang membuat Aidit berhasil digambarkan sebagai seorang perokok berat. Kendati saksi mata yang mengenal Aidit tak pernah melihat sekalipun kalau Ketua CC PKI itu merokok. (sumber: historia.id)