Logo Selasa, 11 Desember 2018
images

Logo gereja HKBP

TABLOIDPEWARNA.com - Hari ini, Sabtu (7/10/2017) adalah hari bersejarah bagi gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Gereja terbesar di Asia Tenggara ini genap berusia 156 tahun.

Gereja budaya ini telah tersebar ke penjuru dunia, bahkan telah memiliki jemaat di Amerika Serikat dan sejumlah  negara lainnya.

Lantas, bagaimana sejarah ditetapkannya 7 Oktober sebagai hari berdirinya HKBP?

Berikut kisahnya seperti yang dikutip dari yayasannommensensigumpar.or.id dan sumber lainya:

Menurut situs wikipedia.org, pengabaran Injil di tanah Batak dimulai semenjak Pendeta Ward dan Pendeta Barton dari Gereja Baptis Inggris menyebarkan injil, namun usaha ini tidak berhasil.

Usaha pengabaran Injil di tanah Batak dimulai kembali pada tahun 1834 dengan diutusnya Pdt Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman dari badan Zending di Boston.

 

Bangunan gereja HKBP tertua di Sipirok, Sumatera Utara. (Foto: Sanrotari-blogger)

 

Usaha ini mengalami kegagalan di saat kedua missionaris tersebut mati martir di Lobu Pining (Tapanuli Utara). Usaha menginjili Tanah Batak sempat terhenti, sampai berita mengenai Tanah Batak terdengar lagi di Eropa dari hasil ekspedisi seorang ilmuwan yang bernama Franz Wilhelm Junghuhn pada tahun 1840.

Ilmuwan berkebangsaan Jerman ini sebelumnya telah melakukan perjalanan ke daerah Batak. Dari hasil kunjungannya tersebut, Junghuhn kemudian menerbitkan karangan tentang suku Batak.

Dalam buku itu, Junghuhn menyarankan agar dibuka misi zending (penginjilan) Kristen untuk membendung pengaruh Islam di bagian utara Pulau Sumatera.

Karangan tersebut sampai ke tangan tokoh-tokoh Lembaga Alkitab Nederlandsche Bijbelgenootschap di Belanda. Alhasil, mereka mengirim seorang ahli bahasa bernama H. Neubronner van der Tuuk untuk meneliti bahasa Batak serta menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Batak.

 

Misionaris terdahulu di Tanah Batak, Henry Lyman dan Samuel Munson. (Foto: prunepicker.blogspot.com)

 

Van der Tuuk adalah orang Barat pertama yang melakukan penelitian ilmiah tentang bahasa Batak, Lampung, Kawi, Bali. Ia juga orang Eropa pertama yang menatap Danau Toba dan bertemu dengan Raja Sisingamangaraja. Ia merasa senang berkomunikasi dan menyambut orang Batak di rumahnya.

Van der Tuuk memberi saran supaya lembaga zending mengutus para penginjil ke Tapanuli, langsung ke daerah pedalamannya. Tahun 1857, pekabar Injil Gerrit Van Asselt, utusan dari jemaat kecil di Ermelo, Belanda, melakukan pelayanan di Tapanuli Selatan.

Ia menemui beberapa pemuda dan memberi mereka pengajaran Kristiani. Pada 31 Maret 1861, dua orang Batak pertama dibaptis, yaitu Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar.

Sementara itu di Kalimantan, seorang ilmuwan Dr Friedrich Fabri dari misi zending Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) berkantor pusat di Jerman tampak kesulitan untuk menembus medan pelayanan.

Wilayah Kalimantan yang kala itu masih terbelakang dan merupakan hutan luas membuatnya putar haluan. Tuhan menggerakkan hati dan pikiran Dr Friedrich Fabri untuk memutar haluan ke tanah Batak.

Beberapa saat kemudian, lembaga zending RMGJerman, mengutus dua orang pekabar Injil ke tanah Batak, yakni Johann Carl Klammer dan Wilhelm Carl Heine.

Sebelumnya pekabar Injil dari Belanda telah ada melayani di tanah Batak yakni Gerrit Van Asselt dan Friedrich Wilhelm Gottlieb Betz. Lalu Wilhelm Carl Heine dan Johann Carl Klammer menemui keduanya di sana. Mereka bertemu pada tanggal 7 Oktober 1861 di Parausorat, Sipirok, Sumatera Utara.

Pada 'rapat' itu, mereka menyepakati bersama tempat atau daerah yang akan mereka layani. Mereka tidak ingin bekerja dan melayani secara terpisah.

Keempat orang tersebut bertekad melayani dengan bersatu padu serta terpadu. Untuk selanjutnya mereka mengadakan rapat tahunan, guna membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan usaha dan upaya pekabaran Injil di tanah Batak.

Dengan adanya rapat atau konperensi tahunan itu, para pekabar Injil telah mempunyai satu tonggak yang kuat sekaligus sebagai tumpuan mereka dalam melayani di Tanah Batak.

Pertemuan dan kesepakatan di Parausorat itu, merupakan pertemuan yang amat bersejarah. Bersejarah, karena dengan pertemuan itu maka pekabaran Injil dilakukan secara terorganisir di tanah Batak.

Strategi, kesepakatan dan pembagian tugas ini menjadikan Injil menyebar dengan cepat. Buktinya, Klammer mendirikan jemaat Sipirok dan Betz mendirikan jemaat Bungabondar, keduanya pada tahun 1861 itu.

Dan pada tahun 1862, van Asselt mendirikan jemaat di Sarulla, sementara Heine mendirikan jemaat Sigompulon.

Pertemuan dan kesepakatan keempat pekabar Injil itulah yang kemudian dijadikan sebagai tanggal lahir HKBP.

Dalam Konferensi Pekabar Injil tahun 1905 para peserta sepakat menjadikan 7 Oktober 1861 sebagai hari jadi atau tanggal lahir HKBP.

Tanggal ini dipilih berdasarkan hari pertemuan kesepakatan dan pembagian tugas penginjilan ke empat penginjil, yakni: Heine, Klammer, Betz dan van Asselt yang bertempat di Parausorat, dekat Sipirok.

Situs wikipedia.org menyebut, bahwa pembukaan wilayah zending di Bataklanden atau tanah Batak ini diberinama Battamission yang dikemudian hari disebut Batakmission atau Mission-Batak.

Kabar telah adanya wilayah zending baru ini sampai ke Rhein RMG di Jerman. Mereka penuh sukacita mendengar hal tersebut lantas memberitahukan kabar gembira ini kepada jemaat-jemaat pendukung sending RMG di jerman pada awal 1862.

Cerita yang berkembang menyebut kalau singkatan HKBP adalah perpaduan nama dari keempat misionaris tersebut. Namun, agak bermasalah dengan nama Van Asselt, karena diawali dengan huruf 'v'.

Masih menurut cerita tersebut ternyata di dalam aksara Batak tidak ada huruf huruf 'v'. Kemudian, kalau nenek-moyang Batak mengatakan huruf ‘v’, agaknya capek, dan sedikit kurang sopan, karena harus sedikit menjulurkan bibir ke depan.

Maka orang Batak saat itu menyederhanakannya dengan menyebut huruf ‘v’ menjadi ‘p’. Maka, menyebut van Asselt lebih gampang dan lebih pas dengan melafalnya menjadi ‘Pan Asselt’. Maka terciptalah singkatan 'HKBP'.

Hingga kini, HKBP telah dipimpin oleh sebanyak 16 'ephorus' sebutan untuk pucuk pimpinan HKBP. Adapun ephorus pertamanya adalah Pdt DR I.L Nommensen yang mengawali era kepemimpinan HKBP sebagai 'organisasi' sejak 1881. Nommensen yang namanya banyak diabadikan sebagai kampus Sekolah Tinggi Teologia (STT), memimpin HKBP hingga tahun  1918.

 

Ephorus pertama HKBP,  Pdt DR I.L Nommensen. (Foto: Youtube)

 

Ephorus HKBP sejak tahun 1881 hingga 1940 dijabat oleh pendeta asal Jerman. Yakni setelah Nommensen, secara berturut-turut yakni Pdt. Dr. Johannes Warneck, Pdt. P. Landgrebe, Pdt. Dr. E. Verwiebe dan Pdt. H.F. de Kleine.

Baru pada tahun, HKBP memiliki ephorus yang asli berdarah Batak, yakni Pdt Kasianus Sirait  yang menjabat hingga 1942. 

Pada 2016 lalu, dalam Sinode Godang HKBP ke-62 di Seminarium Sipoholon, Tarutung, terpilih  Pdt Dr Darwin Lumbantobing sebagai ephorus ke-16 HKBP hingga 2020 mendatang.

HKBP sempat mengalami 'krisis' akibat konflik internal yang terjadi pada 1992 silam. Saat itu, ephorus dijabat oleh Pdt Dr SAE Nababan yang 'dikudeta' dengan pelaksanaan Sinode Godang Istimewa yang memilih ephorus Pdt Dr PWT Simanjuntak. Disebut-sebut, campur tangan penguasa Orde Baru Soeharto terlibat dalam 'peristiwa' kelam tersebut.

Konflik berlangsung cukup panjang antara tahun 1992 hingga 1998. Dengan terlaksananya Sinode Godang Rekonsiliasi pada 1998 yang menetapkan ephorus Pdt Dr JR Hutauruk, maka konflik itu pun berhasil diakhiri.

Begitulah sekelumit cerita ringkas berdiri dan dinamika gereja HKBP yang kini jemaatnya diperkirakan sudah berjumlah lebih dari 4,5 juta jiwa.

Selamat Hari Jadi HKBP yang ke-156. Teruslah berlayar di tengah zaman, menjadi garam dan terang dunia. Dirgahayu HKBP. (*)