Logo Senin, 19 November 2018
images

Ketua Umum Dewan Eksekutif Nasional (DEN) Rumah Nawacita Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI), Raya Desmawanto MSi. Foto: Pagar PS

tabloidpewarna.com, JAKARTA - Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI) mengingatkan para simpatisan dan pendukung Presiden Joko Widodo tidak larut dalam euforia dan berpuas diri terhadap hasil pilkada serentak 27 Juni lalu. Hasil pilkada diyakini bukanlah cerminan utuh dari hasil pemilihan presiden (pilpres) 2019 mendatang, sehingga kerja-kerja politik akar rumput tak boleh dihentikan, namun justru harus diperkuat.

"Meskipun ada beberapa pihak yang mengklaim bahwa hasil pilkada serentak 2018 cenderung menguntungkan Jokowi, namun kami menilai bahwa hasil pilkada bukanlah cerminan utuh pilpres 2019. Kita mesti hati-hati, tidak boleh lengah, terus merapatkan barisan dan memperkuat dukungan komunitas maupun basis akar rumput jelang pilpres 2019 mendatang," kata Ketua Umum Dewan Eksekutif Nasional (DEN) Rumah Nawacita Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI), Raya Desmawanto MSi lewat keterangan tertulis, Selasa (10/7/2018).

Raya Desmawanto menegaskan, ada banyak perbedaan antara pilkada dan pilpres yang menjadi faktor-faktor masyarakat dalam menentukan pilihannya. Pilkada cenderung lebih mengedepankan pilihan personal karena aspek kedekatan sosiologis dan geografis, ketokohan lokal dan ikatan kedaerahan. Sehingga, masyarakat di daerah dalam menentukan pilihan lebih melihat dari kedekatan personal dalam konteks lokal yang ia rasakan.

Kondisi itu, kata Raya mengisyaratkan bahwa faktor partai politik pengusung pasangan calon kepala daerah, tidak mempengaruhi secara dominan pilihan politik masyarakat. Pemilih di daerah cenderung "menafikan" parpol pengusung, namun lebih melihat pada kefiguran (ketokohan) pasangan calon kepala daerah. Hal ini, kata Raya bisa dibuktikan dari tidak sinkronnya perolehan suara parpol di pemilu dan jumlah kursi DPRD dengan hasil pilkada.

"Meski didukung koalisi parpol yang dominan di DPRD, tidak menjamin pasangan calon kepala daerah tersebut dapat terpilih dengan suara mayoritas. Hal ini banyak kita lihat di pilkada 2018. Ini menunjukkan, bahwa parpol bukanlah faktor penentu pilihan warga dalam pilkada. Tapi cenderung karena faktor sosiologis dan personal," tegas Raya.

Selain itu kata Raya, parpol yang saat ini berkoalisi mendukung Jokowi, dalam pilkada serentak 2018 justru memberikan dukungan yang variatif kepada paslon kepala daerah. Koalisi parpol di pusat tidak serta merta dilakukan di daerah, bahkan banyak di antaranya yang menunjukkan anomali koalisi pusat dan daerah.

"Amat minim kita menemukan koalisi parpol yang konsisten di pusat dan daerah. Sehingga, kemenangan paslon kepala daerah tidak mutlak sebagai kemenangan koalisi parpol pendukung Jokowi di pusat. Karena di dalamnya juga ada parpol yang justru menjadi oposisi di pusat. Jadi, tidak bisa kita generalisasi, bahwa kemenangan itu hanya milik parpol pengusung Jokowi," tegas Raya.

Ia menyontohkan hasil pemilihan gubernur dan wakil gubernur Riau yang dimenangkan oleh pasangan Syamsuar-Edy Nasution. Pasangan ini diusung oleh koalisi PAN, Partai NasDem dan PKS. Padahal PAN dan PKS selama ini kerap melontarkan kritik kepada pemerintahan Jokowi, meski PAN masih dalam barisan koalisi.

"Dalam contoh kasus pilgub di Riau, jika kita mengasosiasikan kemenangan paslon berdasarkan partai pendukung, rumus apa yang bisa kita pakai, karena ini koalisinya gado-gado. Ini menunjukkan bahwa ketokohan paslon lebih menjadi preferensi pilihan masyarakat, ketimbang parpol pengusung," tegas Raya.

Raya menegaskan, saat ini serangan politik dan kampanye negatif kepada Presiden Jokowi makin keras dilakukan. Manipulasi informasi terutama yang diproduksi lewat media sosial menjadi ancaman terhadap kepercayaan publik atas capaian positif pemerintahan Presiden Jokowi.

Ia menyerukan agar para simpatisan dan relawan tidak saja intensif "berkicau" di dunia maya, namun harus turun ke akar rumput dalam merangkul dan mengakumulasikan basis dukungan untuk Jokowi dalam pilpres 2019 mendatang.

"Kerja politik yang konkret, berbasis data dan lapangan tentunya lebih efektif dan terukur. Kita sudahi euforia hasil pilkada, karena itu bukanlah gambaran nyata hasil pilpres 2019 mendatang. Ayo kita turun ke lapangan, menyosialisasikan program, kebijakan dan kemajuan yang nyata diraih oleh pemerintahan Presiden Jokowi. Serta menangkal kampanye jahat terhadap JOkowi," pungkas Raya. (*)