Logo Senin, 14 Oktober 2019
images

Ilustrasi sunat. (Foto: grid.id)

TABLOIDPEWARNA.com - Ada banyak teori soal akar praktik sunat pada laki-laki. Ada pendapat kalau sunat lahir dari kebudayaan Mesir Kuno. Namun, teori terbaru menyebut sunat berasal dari kebudayaan Arab selatan dan sebagian Afrika.

Selama ribuah tahun, menurut Ancient Origins, sunat paling sering digunakan sebagai ritual keagamaan, ritual kedewasaan, dan sebagai hukuman pada masa perang.

Sunat di Mesir

D. Doyle dalam “Ritual Male Circumcicion: a Brief History” terbit dalam The Journal of the Royal College of Physicians of Edinburgh menjelaskan, sunat telah dipraktikkan di beberapa bagian Afrika seperti Mesir, kepulauan di Laut Selatan, Australia oleh suku Aborigin, dan oleh suku Inca, Aztec, Maya, juga orang-orang Yudaisme, dan Islam.

Telah diketahui banyak orang kalau negeri para Firaun adalah pelopor tradisi sunat. Referensi paling awal soal sunat berasal dari 2.400 SM. Itu terlacak lewat sebuah relief di tanah pemakaman kuno Saqqara yang menggambarkan serangkaian adegan medis, termasuk sunat pisau.

Di Mesir Kuno, praktik ini dilakukan pada remaja pria yang akan diinisiasi menjadi pria dewasa dari kelas bangsawan. “Sunat Mesir mungkin juga telah digunakan untuk membatasi kelas elite khusus,” tulis laman Ancient Origin.

Namun, menurut perkiraan Doyle, orang Mesir mengadopsi sunat dari masa yang jauh lebih awal, dari orang-orang yang tinggal di wilayah yang lebih jauh ke selatan, yang sekarang masuk wilayah Sudan dan Ethiopia.

Orang-orang selatan itu, secara genetik terkait dengan bangsa Sumerian dan Semit. Mereka menurut para antropolog berasal dari Semenanjung Arab dan telah melakukan kontak rutin, seperti berdagang atau bertempur dengan orang Mesir.

Sementara, bagi tetangga mereka, orang Yunani, tradisi sunat ini dipandang aneh. Pada abad kelima, Herodotus mengemukakan pendapatnya lewat sebuah karya The History of Herodotus. "Mereka (orang Mesir, red.) mempraktikkan sunat demi kebersihan, menganggap lebih baik bersih daripada cantik," tulis laman livescience.

Adapun di Israel kuno, sunat memiliki fungsi dan proses yang agak berbeda. Sunat merupakan penanda etnis yang menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Israel.

Sebagaimana orang Yahudi modern, sunat biasanya dilakukan pada bayi, delapan hari setelah kelahiran. Kendati praktik itu bisa juga dilakukan pada orang dewasa, jika diperlukan. Mereka biasanya orang yang tadinya non-Israel tapi kemudian memutuskan ingin masuk ke komunitas Yahudi.

“Salah satu cara yang membedakan agama Kristen dari Yudaisme adalah orang Kristen non-Yahudi tidak perlu disunat,” jelas Ancient Origin.

Sunat di Budaya Afrika Lainnya

Mesir bukan satu-satunya budaya Afrika yang mempraktikkan sunat. Sunat umum di kalangan masyarakat Afrika timur. Sebagaimana di Mesir Kuno, biasanya sunat terkait ritus peralihan ke dewasa. Laki-laki muda dari etnis Xhosa dan Zulu secara tradisional memiliki ritual sunat yang rumit, di mana tubuh mereka akan dicat dengan kapur sebelum disunat. Mereka akan diisolasi dari komunitas selama beberapa minggu. Mereka tak boleh berdekatan dengan perempuan.

Setelah disunat, mereka akan meninggalkan kulit khitan yang terpotong di hutan sebagai simbol meninggalkan kehidupan masa kecil untuk menjadi laki-laki, dan kemudian mencuci kapur di sungai.

“Sunat masih dilakukan secara teratur oleh pengusung kebudayaan ini, tetapi biasanya di rumah sakit bukan dengan cara tradisional,” tulis Ancient Origin.

Sunat di Kawasan Oseania

Sunat secara historis tidak hanya di Afrika dan Timur Tengah. Praktik semacam ini juga dilakukan di Oceania dan Australia oleh suku Aborigin. Mereka menggunakan kerang laut sebagai alat pemotongnya. Orang yang disunat ditahan tubuhnya agar menghadap ke atas. Dia berbaring di punggung seorang pria yang berlutut. Lengan dan kakinya dipegangi pria lain.

Untuk menghentikan pendarahan, menurut Doyle, mereka berjongkok atau berdiri di atas asap dari api yang ditutupi dengan daun kayu putih selama beberapa jam. “Ada yang mengatakan, darah yang menetes ke dalam api adalah simbol simpati kepada perempuan yang mengalami menstruasi,” jelasnya.

Di Oceania dan Australia, sunat adalah ritual peralihan ke dewasa sekaligus ujian keberanian.

Masa perang

Bukan hanya sebagai ritual menuju dewasa dan alasan keagamaan, sunat juga digunakan untuk menghukum tentara musuh. Beberapa kasus terjadi di Timur Tengah, Afrika timur, dan Asia Selatan.

W.D. Dunsmuir dan E.M. Gordon dari Department of Urology St. George’s Hospital NHS Trust dalam "The History of Circumcision" yang terbit di Journal BJU International menyebut sunat juga dipercaya sebagai tanda kekotoran atau perbudakan. Di Mesir Kuno misalnya, prajurit yang ditangkap sering dimutilasi sebelum dijadikan budak.

Siapa Tukang Sunatnya?

Apakah selalu dokter yang melakukan sunat di zaman kuno? Mungkin tidak. 

Dunsmuir dan Gordon mengatakan, pada zaman Alkitab sunat dilakukan para ibu ketika bayi baru lahir. Namun, perlahan-lahan tukang sunat (mohel) mengambil alih. Mereka adalah pria yang memiliki keterampilan bedah dan pengetahuan agama yang mumpuni. 

"Setelah berdoa, mohel menyunat bayi itu dan kemudian memberkati anak itu, suatu praktik yang sedikit berubah hari ini," tulisnya. 

Sementara dalam masyarakat Mesir Kuno, sunat dilakukan oleh pendeta dengan kuku jempolnya yang sering dilapisi emas. Pun sepanjang abad pertengahan, sunat dilakukan oleh petugas laki-laki yang religius. "Ada kemungkinan bahwa dokter tidak melakukan sunat sampai paruh kedua abad ke-19," lanjutnya.

Bagaimanapun, sunat dulunya merupakan kebiasaan yang langka. Sebagian besar budaya di luar Afrika, Timur Tengah, dan Oseania, semula tidak mempraktikkannya. Namun, praktik di budaya mereka nyatanya berpengaruh signifikan pada peradaban terutama karena salah satu pilar peradaban barat, Israel Kuno, melakukannya.

Sunat masih berlanjut hingga kini. Menurut Ancient Origin, sepertiga dari pria di seluruh dunia disunat, trutama di kalangan Muslim dan Yahudi, karena alasan agama. Di luar itu, sunat tersebar luas di Amerika Serikat dengan alasan kesehatan. Namun, banyak organisasi medis utama dunia tidak setuju ada manfaat yang signifikan dari sunat.

Sunat menjadi kontroversi karena kekhawatiran kurangnya informasi cara pembedahan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia. (sumber: historia.id)