Logo Rabu, 17 Juli 2019
images

Korban aksi bom terorisme di gereja Sri Lanka. (Foto: antaranews.com)

PEWARNA.com - Hari Paskah yang mestinya damai berubah duka. Korban tewas mencapai 310 orang akibat serangkaian aksi terorisme di sejumlah gereja dan hotel di Sri Lanka, Minggu (21/4/2019). Para pemimpin dunia turut berbelasungkawa, tak terkecuali Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

“Indonesia mengecam keras serangan bom di beberapa tempat di Sri Lanka, hari ini. Atas nama seluruh rakyat Indonesia, saya juga menyampaikan duka cita yang mendalam kepada Pemerintah Sri Lanka dan seluruh keluarga korban. Semoga korban yang luka-luka dapat segera pulih,” ungkapnya via akun Twitter @jokowi, Minggu malam, 21 April 2019.

Aksi biadab itu jadi catatan kelam bagi umat Nasrani di Sri Lanka yang jejaknya sudah ada berabad-abad lampau. Lembaran sejarah berbicara bahwa negeri-pulau di selatan India itu sudah bersentuhan dengan agama Nasrani sejak abad pertama dan Nasrani jadi agama ketiga yang dikenal masyarakat setempat selain Buddha dan Hindu.

Leonard Pinto dalam Being A Christian in Sri Lanka: Historical, Political, Social and Religious Considerations mengungkapkan, agama Nasrani pertamakali dibawa Santo Thomas Rasul, satu dari 12 rasul Yesus Kristus, pada tahun ke-52 Masehi ketika negeri itu di bawah Kerajaan Anuradhapura.

“Ada bukti bahwa para pengikut Kristen Santo Thomas telah tinggal di Sri Lanka pada abad pertama (Masehi). Sejumlah ukiran tiga salib (Salib Anuradjapura) terlihat di Mutwal, Kotte, dan (kota) Anuradhapura. Salah satunya disimpan di Museum Anuradhapura,” kata Pinto, kendati tak dipaparkan detail jumlah masyarakat Sinhala yang menganut Kristen saat itu.

Salib Anuradhapura itu sendiri penemuannya baru terjadi pada sebuah proyek ekskavasi di Anuradhapura tahun 1912. Salib itu merupakan salah satu warisan Portugis yang diwariskan oleh Komisioner Arkeologi Ceylon (nama lama Sri Lanka) Edward R. Ayrton.

Suksesornya, Arthur Hocart, dalam catatannya pada 1924, Memoirs of the Archaelogical Survey of Ceylon, meyakini salib itu berasal dari masa lebih tua, yakni peninggalan Kristen Nestorian. Tapi sejumlah pakar lainnya mempercayai salib itu berasal dari masa Santo Thomas lantaran catatan sejarah berbicara bahwa Portugis tak pernah menjejakkan kaki di Anuradhapura.

Pada masa Taprobane, istilah bahasa Yunani untuk menyebut Sri Lanka di masa itu, penganut Kristen yang disebarkan Santo Thomas Rasul disebutkan berkembang pesat di negeri yang masih didominasi pemeluk Buddha dan Hindu itu. Bahkan, lanjut Pinto, selama periode 479-497 M di Sri Lanka sempat muncul seorang ratu beragama Kristen, sejumlah prajurit Kristen asal India Selatan yang dipimpin Panglima Kristen asal Sinhala.

Sebelum masuknya kolonialis Portugis, disebutkan pula pernah tinggal satu komunitas Kristen Nestorian yang disebarkan para pendeta Nestorian asal Mesir. Pada abad ke-13, para penganut Nestorian ini meleburkan diri ke agama Kristen Santo Thomas Rasul. Di abad ke-16, keduanya “terpaksa” dileburkan ke agama Katolik yang dibawa kolonialis Portugis.

Kristen Warisan Portugis
Kurangnya informasi mengenai Kristen dan gereja pertama di masa Santo Thomas Rasul pada abad pertama merupakan imbas dari latinisasi para penganut Kristen Santo Thomas Rasul yang jadi proses penyebaran agama Katolik oleh Portugis. Klimaksnya terjadi pada 1599, 94 tahun setelah penjelajah Portugis pertama, Laurenço de Almeida, bersama armadanya menginjakkan kaki di Sri Lanka.

Kedatangan De Almeida sedianya merupakan ketidaksengajaan. Ia sampai ke Kolombo gegara badai dalam perjalanannya di Samudera Hindia. Negosiasinya dengan Raja Dharma Parakramabahu IX, penguasa Kerajaan Kotte, membolehkan De Almeida untuk tidak hanya tinggal dan berdagang, namun juga membangun Kapel Santo Laurensius, rumah peribadatan Katolik pertama di Sri Lanka.

Di kapel ini pula tercatat digelarnya kebaktian pertama yang dipimpin Franciscan Friar Vicente, pastor yang turut dalam perjalanan armada De Almeida. Kaum Katolik lalu bersinggungan dengan para penganut Kristen Santo Thomas di berbagai wilayah.

“Bertemunya para penjelajah Katolik dan pemeluk Kristen Santo Thomas itu terlibat friksi. Mulanya kedua komunitas Kristen ini saling ketergantungan, namun lama-lama perbedaan keduanya memisahkan mereka. Klimaksnya ketika para penganut Kristen Santo Thomas dipaksa bergabung ke gereja Katolik Portugis. Sejumlah dokumen dan catatan dihancurkan,” tulis Klaus Koschorke dkk dalam A History of Christianity in Asia, Africa and Latin America 1450-1990: A Documentary Sourcebook.

Penyebaran Katolik oleh Portugis kian intens sejak 1543 dipimpin Santo Francis Xavier, atas titah Raja João III. Raja Kotte, Dharmapala, bahkan lantas menganut Katolik, memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk Santo Francis menyebarkan agama Katolik.

Tapi “masa jaya” Portugis di Sri Lanka berakhir pada 1658 kala Belanda datang. “Penjajah baru itu melarang Katolik berkembang di Sri Lanka. Masyarakat Sinhala dipaksa beralih kepercayaan dari Buddha dan Katolik menjadi Protestan,” tulis Paul Hattaway dalam Peoples of the Buddhist World: A Christian Prayer Diary.

Agama Katolik tetap bertahan secara diam-diam meski sempat tiga dekade tak memiliki satupun pastor. Pada 1687, Pastor Joseph Vaz diam-diam datang dari Goa, India, untuk menghimpun para penganut Katolik yang tersisa. Mereka eksis secara klandestin di bawah perlindungan Raja Kandy dari Sinhala.

Kebebasan beragama baru kembali di tanah Sri Lanka saat Inggris mendepak Belanda pada 1769. Bersamaan dengan itu, Kristen Anglikan masuk.

Hingga kini, gereja-gereja beragam aliran Kristen muncul. Tidak hanya Katolik, Protestan dan Anglikan, Kristen Luther juga eksis di Sri Lanka walau tak banyak penganutnya. Mengutip laman Kementerian urusan Kristen Sri Lanka, pada 1838 tercatat jumlah penganut Kristen mencapai 74.787 jiwa, 72.870 di antaranya Katolik. Sementara, menurut sensus demografi pemerintah Sri Lanka pada 2012, hingga kini penganut Kristen tercatat 7,4 persen dari total 22.409.381 penduduk.

Gereja tertua yang masih berdiri di Sri Lanka hingga kini adalah Gereja Santo Thomas di Kotahena, dekat Kolombo. Gereja para penganut Kristen Anglikan ini didirikan Gubernur Jenderal Ceylon Sir Robert Brownrigg pada 1816. (sumber: historia.id)