Logo Selasa, 23 April 2019
images

Debat Perdana Capres-Cawapres 2019, Foto: m.batamtoday.com

TABLOIDPEWARNA.com - Ahli gestur dan psikologi politik Dewi Haroen menilai performa capres Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto dalam debat pertama sebagai bentuk rebranding. Alasannya, Jokowi dan Prabowo pernah berkompetisi pada Pilpres 2014.

"Pertama bahwa ini ada rematch rivalry, sudah 4 tahun lalu dimulai dan dari genderang perang 2014 itu berlanjut sampai sekarang. Tapi sekarang ini kedudukannya beda. Kalau dulu sama-sama merebut (posisi presiden), posisinya sekarang beda. Rematch, yang satu sebagai petahana, dan satu lagi adalah sebagai penantang," kata Dewi saat diskusi bertajuk 'Debat Capres-Cawapres Belum Klimaks atau Antiklimaks' di Resto Ajag Ijig, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (22/1/2019).

"Itu (kondisi) psikologisnya beda sekali, kemudian ini jadi to be continue sequal. Misal kita nonton 'Game of Throne', kita pasti berharap dong, dari segi penonton juga harapannya beda. Jadi penonton yang sudah ramai, sudah mindset-nya sudah sekian banyak yang, misalnya petahana, berharap Jokowi udah 4 tahun begini-begini, penampilan pasti begini," imbuhnya.

Menurut Dewi, sebagai petahana, Jokowi memang harus unggul di debat perdana. Sedangkan, kata Dewi, Prabowo mengambil strategi bermain aman.

"Jadi kalau Jokowi unggul, ya betul karena dia petahana, dia punya prestasi. Kalau Prabowo kalah, dia wajar, tidak mungkin menyerang dulu. Karena apa? Karena orang pasti bakal melihat prestasi daripada gagasan. Kalau dari strategi memang dia harus main aman, dia harus draw, petahana harus unggul. Kenapa Pak Jokowi menyerang? Dia juga harus rebranding. Jadi itu semua wajar karena itu taktik," jelas Dewi.

Dewi menuturkan, strategi rebranding ini diperlukan agar para pasangan calon tidak kalah dalam pertarungan debat.

"Tadi rebranding tadi, Jokowi branding baru, tadi menyerang. Kalau dia petahana dia diserang, dia kalah, dong. Menyerang dengan lebih keras, lebih ofensif. Untuk itu, kenapa Ma'ruf Amin pasif, karena supaya Pak Jokowi terlihat," tutur Dewi.

"Prabowo sangat menahan diri. Kenapa tidak menyerang? Karena dia main aman, karena dia takut kalau menyerang balik dia kelepasan," pungkasnya.
(sumber: detik.com)