Logo Jumat, 23 Agustus 2019
images

Lintas agama. (Foto: internet)

TABLOIDPEWARNA.com - Di balik fenomena gereja-gereja raksasa yang banyak bermunculan di belahan dunia dan di Indonesia, ada fenomena lain yang seolah bertolak belakang, setidaknya di dunia barat. Gereja-gereja konvensional mulai ditinggalkan, menyisakan ruang kosong tak bertuan.

Seperti dilaporkan oleh The Atlantic, bangunan gereja St. Vincent De Paul di Brooklyn, Amerika Serikat, yang berdiri abad ke-19, telah menjadi rumah ‘hantu’ beratap rusak dan dipagari tanaman merambat. Padahal, bangunan itu selama lebih dari satu abad dipenuhi jemaat.

Kini telah berubah menjadi apartemen mewah. Di AS, 6.000 hingga 10.000 gereja memang menjadi bangunan mati setiap tahun, mengutip Thom S. Rainer dalam Facts and Trends, masih dari The Atlantic. Angka itu diperkirakan terus meningkat.

Eropa juga mengalami fenomena serupa. Gereja St. Joseph di Arnhem, Belanda, dulu disesaki lebih dari 1.000 jemaat. Kini, gereja tersebut telah menjadi Aula Skate Arnhem. Wall Street Journal menulis ratusan gereja di Eropa Barat telah ditutup atau terancam ditutup karena jumlah jemaat terus berkurang.

Gereja yang sepi jemaat pernah saya saksikan di Australia. Di beberapa gereja yang saya kunjungi, seperti di Gereja Katolik St. Joseph, Camperdown, sedikit jemaat menghadiri misa mingguan, jumlahnya mungkin tak sampai 40 orang. 

Di Australia, fenomena yang sama tampaknya terjadi. ABC melansir penutupan gereja telah menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, ujar profesor teologi dari Flinder University Andrew Dutney.

Situasi itu sangat berbeda dari gereja Katolik di Indonesia, terutama di perkotaan Pulau Jawa, yang biasanya masih penuh disesaki oleh jemaat. Tak hanya gereja Katolik, sejumlah gereja Kristen konvensional yang pernah saya kunjungi di Jawa dan Bali tampak memiliki jumlah jemaat lebih banyak dibandingkan gereja konvensional di Australia itu ketika ibadat mingguan.

Namun, berdasarkan pengamatan saya, ada hal cukup menarik di gereja-gereja di Australia tersebut: kebanyakan dari jemaat yang aktif dalam kehidupan pelayanan gereja di luar paduan suara tampak berusia cukup tua.

Semakin Religius Pew Research Center pada Juni 2018 pernah merilis studi berjudul “The Age Gap in Religion Around the World.” Studi ini mempelajari mengenai fenomena terkait tingkat religiusitas di dunia. Ia dilakukan di 106 negara mengenai identitas dan pentingnya agama, 105 negara terkait frekuensi berdoa, dan 102 negara terkait tingkat kehadiran dalam pelayanan keagamaan.

Sejumlah survei dalam stud ini berlangsung selama 2008 sampai 2017. Studi ini melakukan perbandingan antara orang dewasa muda (18 hingga 39 tahun) dan orang dewasa tua (40 tahun ke atas) jika sampel survei suatu kelompok agama di suatu negara setidaknya mencapai 250 responden.

Melalui sejumlah alat ukur tertentu, studi ini menemukan orang dewasa muda cenderung lebih tidak religius dibandingkan orang dewasa lebih tua. Pola ini terjadi “di setiap konteks sosial dan ekonomi,” tulis studi tersebut (hlm. 5).

“Meski tersebar luas, pola ini tidak berlaku universal. Di banyak negara ditemukan pula tidak ada banyak perbedaan tingkat ketaatan religius antara orang dewasa muda dan tua. Namun, pada tempat yang mengalami perbedaan, arahnya hampir selalu orang dewasa muda lebih tidak religius dibandingkan orang dewasa tua.”

Pertanyaannya: mengapa situasi ini terjadi? Ada banyak faktor. Salah satu teori yang disebutkan dalam studi Pew menyebut usia memang dapat berdampak pada tingkat religiusitas seseorang. Ada beberapa sebab, salah satunya motif ekonomi. Ketika masa tua tiba, dengan semakin religius, orang berharap dapat menabung “modal keagamaan” yang dapat membantu mereka dalam kehidupan setelah kematian.

Argumen ini dikemukakan oleh Corry Azzi dan Ronald G. Ehrenberg dalam studi “Household Allocation of Time and Church Attendance” yang diterbitkan di Journal of Political Economy. Masih dari studi Pew, dari sisi ilmu psikologi, ada teori menyebut semakin tua usia seseorang semakin dia membangun nilai-nilai baru yang dapat membawanya pada kehidupan spiritual lebih khusyuk.

Teori yang disebut “gerotransenden” ini digagas oleh Lars Tornstam dari Uppsala University di Swedia. Ada pula teori dari Kenneth E. Vail, dkk, dalam studi “A Terror Management Analysis of the Psychological Functions of Religion” yang menyebut kepercayaan terhadap agama dapat meminimalisir kegelisahan seseorang terhadap kematian. Lawrence T. White, profesor psikologi dari Beloit College, dalam artikelnya menulis usia mengamplifikasi ketakutan ini sehingga orang cenderung religius ketika menua.

Studi yang ekstensif oleh R. David Hayward dan Neal Krause dari University of Michigan semakin mempertegas fenomena ini. Mereka menemukan ada “korelasi positif antara usia tua dan keterlibatan religius seseorang di tingkat personal ataupun organisasional di seluruh dunia secara rata-rata” (hlm. 12). Yang menarik, ada sejumlah variasi perbedaan di sejumlah negara terkait dampak dari usia ini.

Di negara-negara berbahasa utama bahas Inggris dan sebagian besar negara di Benua Eropa, usia memang berperan penting mengenai tingkat religiusitas. Hal sama berlaku di Amerika Latin dan negara-negara penganut Konfusian. Namun, di negara-negara Asia Tenggara dan dunia Islam, hasilnya cukup beragam.

Artinya, kultur juga berpengaruh terhadap korelasi antara religiustias dan usia. Sebagai catatan, studi ini menganalisis data di 80 negara selama 1981-2013 dari World Values Survey/European Values Study.

Terjadi di Indonesia? Studi Hayward dan Krause itu boleh jadi mengindikasikan hingga tingkat tertentu, Indonesia mengalami fenomena yang sama: semakin tua seseorang, semakin tinggi pula tingkat religiusitasnya. Agri Karuniawan merasakan hal itu selama 31 tahun hidupnya di Yogyakarta.

Dalam keseharian, ia mengamati orang kerap aktif dalam kegiatan lingkungan di wilayah gerejanya, St. Petrus dan Paulus di Klepu, merupakan orang-orang berumur lebih dari 40 tahun. “Yang paling tampak itu [ketika] sembahyangan di lingkungan,” katanya. “Yang keluarga muda itu hampir tidak ada malah.”

Sebagai catatan, dalam gereja Katolik di Indonesia, ada sistem lingkungan atau kring atau wilayah. Sistem ini dibuat agar umat Katolik dapat berkumpul dan berdoa bersama di tingkat lebih kecil. Agri dan istrinya sangat jarang menghadiri acara doa tersebut. Ia merasa berjarak karena perbedaan usia dengan orang-orang yang kerap menghadiri acara doa itu.

“Sebenarnya aku kalau dipaksa ya ikut, tapi karena tidak dipaksa, ya sudah,” ujarnya sembari tertawa. 

Hal serupa terjadi di wilayah lingkungan gereja tempat tinggalnya dulu, Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran. Ia mencontohkan tidak tampak kehadiran anak-anak muda dalam kegiatan doa rosario di lingkungannya.

“Tidak cuma sekali-dua kali aku [mengamati hal ini] ... cukup sering,” kata Agri. “Jarang sekali anak muda.” Ia tidak mamahami mengapa fenomena hubungan positif antara tingkat religiusitas dan usia terjadi di tempatnya tinggal. Namun, jika berkaca dari pengalaman pribadi dan istrinya terhadap kedua orangtua mereka, ia mengatakan semakin tua, kedua orang tua mereka butuh “sesuatu” hal yang membuatnya damai menghadapi hidup. Padahal, ketika masih muda, kedua orangtuanya jarang pergi ke gereja.

“Mereka itu biasanya mendoakan anaknya seiring anaknya mulai besar, selepas kuliah dan mulai kerja. Jadi, mereka seperti mengerti kalau anaknya itu—istilahnya—sedang ‘berjuang naik gunung’." "Jadi mereka bisa men-support dengan doa. Itu yang terjadi pada orangtuaku dan istriku,” ujar Agri. (sumber: tirto.id)