Logo Senin, 19 November 2018
images

Kondisi peribadahan umat Kristen di Vietnam sering mendapat gangguan keamanan. Foto: internet

TABLOIDPEWARNA.COM - Pengalaman pahit ini terjadi tiga tahun yang lalu. Duong Van Minh menderita penyakit ginjal serius sehingga pergi untuk berobat ke Hanoi bersama sejumlah kerabatnya. Sayangnya, berkali-kali Minh mendapat penolakan dari rumah sakit negara tanpa penjelasan yang jelas.

Ia dan pihak Gereja Redemtorist yang menampungnya sementara kemudian berkesimpulan: otoritas Vietnam melakukan tindak diskriminasi hanya karena Minh seorang penganut ajaran Kristen.

Minh berasal dari Provinsi Tuyen Quang. Sehari-hari mengajar pendidikan Kristen di Vietnam bagian Utara yang berkontur pegunungan tempat etnis Hmong tinggal. Sejak lama ia memang sekaligus memperjuangkan agar penduduk etnis Hmong yang menganut ajaran Kristen bisa mempraktekkan prosedur penguburan kerabat yang meninggal sesuai ajaran agama.

Sayangnya hal ini ditentang oleh otoritas pemerintahan setempat, sehingga Minh dianggap musuh negara.

“Otoritas dan kepolisian di Tuyen Quang bahkan sempat-sempatnya pergi ke provinsi lain untuk mengarang cerita, menyebarkan fitnah, dan melarang orang-orang (penganut Kristen) untuk menjalankan tradisinya. Sejak Agustus 1989 kami mewacanakan praktek penguburan sesuai ajaran kami, polisi dan pemerintah mengawasi kami siang dan malam, selalu mencari celah untuk merepresi dan menangkapi kami,” ujarnya kepada Radio Free Asia seperti dimuat di tirto.id.

Pemerintah Vietnam melihat orang-orang seperti Minh sebagai ancaman terhadap tatanan politik negara yang mengurusi kepercayaan warganya agar selaras dengan prinsip sosialisme ala Vietnam. Minh pernah dipenjara selama lima tahun (1990-1995).

Pada 2013 ia pernah ditolak juga saat akan mengobati ginjalnya. Tak hanya ditolak instansi kesehatan di Tuyen Quang, ia juga diinterogasi selama empat jam per hari.

Kepolisian Tuyen Quang pernah memaksa Minh agar dirawat di rumah sakit kepolisian. Pemaksaan secara birokrasi dilakukan dengan cara memerintahkan rumah sakit-rumah sakit di daerah tersebut untuk menolak Minh jika datang berobat.

Polisi juga menyatakan siap membayar seluruh biaya pengobatannya. Tapi Minh paham, paksaan itu dimaksudkan agar selama dirawat Minh bisa turut diinterogasi perihal perjuangannya dalam mengadvokasi orang-orang pengikut Kristus di Vietnam.

Menurut data pemerintah Vietnam tahun 2014, ada 7,6 juta penganut Kristen di negara tersebut. Persentasenya mencapai 8,3 persen dibanding total seluruh penganut agama dan kepercayaan lain. 6,2 juta (6,8 persen) di antaranya adalah pengikut Katolik, sementara 1,4 juta (1,6 persen) lainnya penganut Protestan. Angkanya naik dari 7,5 persen pada tahun 2009, di mana 6,6 persen di antaranya Katolik dan 0,9 persen Protestan.

Dalam laporan di Diplomat oleh Seb Rumsby, sejak 1980-an penganut Kristen (khususnya Protestan) tumbuh pesat di di kalangan Suku Hmong yang tinggal di dataran tinggi Vietnam Utara. Dari sekitar 1 juta warga Suku Hmong di Vietnam, 300.000 di antaranya adalah penganut Protestan atau Katolik.

Saat ini ada sekitar 4 juta penduduk Suku Hmong yang tersebar di seluruh wilayah perbatasan Cina, Vietnam, Laos, dan Thailand. Data tahun 2009 menyatakan penduduk Hmong di Vietnam menjadi yang terbesar kedua setelah di Cina.

Akibat pergolakan politik, sejak abad ke-18 dan 19 mereka bermigrasi ke Amerika Serikat dan Australia. Identitas etnis mereka dibangun dalam bahasa dan tradisi yang sama, juga pewarisan nama klan yang sama.

Agak mirip dengan orang Kurdi di Timur Tengah, etnis minoritas Hmong memiliki rasa persatuan yang signifikan sehingga bermunculan pula suara untuk memperluas otonomi di tempat Suku Hmong tinggal.

Hal ini yang membuat Pemerintah Vietnam memperlakukan komunitas Suku Hmong dengan agak keras, terutama untuk kalangan penganut Kristen. Penganut Kristen, khususnya para pemukanya, punya pengaruh yang besar termasuk untuk melancarkan sikap perlawanan.

Dalam sejarah politik Vietnam, Suku Hmong terjebak di antara blok komunis dan blok liberal. Anehnya, tidak ditemukan rekam jejak misionaris asing yang secara fisik hadir di wilayah mereka.

Agama Kristen mulai menyebar sejak akhir tahun 1980-an melalui program radio evangelis berbahasa Hmong yang disiarkan dari Manila. Mereka jadi pendengar setia, kemudian terpengaruh, dan barulah pemuka agama Kristen dari daerah lain di Vietnam datang untuk mengukuhkan pengaruhnya.

Konstitusi Vietnam bersifat ateistik hingga awal 1990-an sebelum akhirnya membolehkan pelaksanaan ajaran agama. Buddha menjadi agama yang paling mudah tumbuh, namun Katolik Roma juga tak kalah pesat. Di Asia Tenggara, penduduk Katolik di Vietnam jadi yang terbesar kedua setelah Filipina.

Meski mendapat kebebasan, menurut aturan hukum yang berlaku, kelompok agama mesti mendaftarkan dirinya ke otoritas setempat, dan menjalankan praktiknya sesuai dengan garis-garis besar bikinan negara.

Jika ada kelompok kepercayaan yang melakukan perlawanan seperti kelompok penganut Kristen di Suku Hmong, pemerintah tak segan merespons dengan represi.

Sebagaimana dilaporkan New York Times, pemimpin kelompok yang bersangkutan akan sering diinterogasi. Acara keagamaan akan dibubarkan paksa. Literatur yang berisi ajaran kepercayaan kelompok tersebut akan disita.

Dalam beberapa kasus, petugas kepolisian Vietnam pernah menghancurkan gereja-gereja dari kelompok keagamaan yang tak terdaftar secara resmi. Jika tetap membandel, provokatornya akan dijebloskan ke jeruji besi atas tuduhan melanggar keamanan nasional.

Seb Rumsby mendapati sikap otoritas Vietnam terhadap eksistensi Suku Hmong yang menganut Kristen dalam beragam cara. Kadang mereka menganggap eksistensinya tak ada.

Mereka pernah mempublikasikan propaganda anti-Kristen. Kristen, dalam pandangan otoritas Vietnam, punya rekam jejak buruk sebab dibawa oleh pihak Barat dan manuver imperialismenya. Dakwah ajaran Kristen dengan demikian dianggap sebagai ancaman eksternal yang berpotensi menipiskan semangat komunisme di hati rakyat Vietnam.

Laporan pegiat hak asasi manusia, termasuk Human Rights Watch, menyatakan penganut Kristen di Suku Hmong kerapkali mendapat intimidasi, persekusi, penangkapan sewenang-wenang, denda dalam jumlah yang amat merugikan, pemukulan, penyitaan properti, hingga pemaksaan untuk murtad dari keyakinannya.

Oleh sebab itu warga Hmong banyak yang melarikan diri ke Laos, Thailand, atau ke provinsi lain di Vietnam demi kehidupan yang lebih baik.

Pada akhir Maret 2013 Morning Star News memuat berita menyedihkan: seorang pemuka agama Kristen dari Suku Hmong meninggal dunia setelah dipukuli dan disetrum polisi selama penahanan.

Namanya Vam Ngaij Vaj. Ia tinggal di Provinsi Dak Nong di daerah dataran tinggi Vietnam Utara. Pada bulan Mei 2013 ia dan istrinya sedang membereskan dan membersihkan rumput dari kebun mereka di Distrik Dak Glong.

Tiba-tiba kepolisian setempat datang dan menangkap keduanya atas tuduhan “menghancurkan hutan secara ilegal.” Orang-orang Kristen etnis Hmong yang selama ini dibina oleh Vaj berang. Vaj sedang mengurus propertinya sendiri, akan tetapi ditangkap tanpa dasar yang kuat.

Vaj dan istrinya kemudian dibawa ke sebuah kantor polisi di Kota Dia Nghia, ditempatkan di sel yang terpisah. Malam itu Vaj dipukuli dan disiksa tanpa ampun.

Intimidasi yang parah dilakukan polisi di hari berikutnya dengan berbohong pada Vaj bahwa saudara laki-lakinya telah meninggal. Berita ini makin membuat Vaj depresi, hingga fisiknya yang sesungguhnya bugar kian melemah.

Beberapa hari setelahnya ia meninggal. Di tubuhnya yang sudah kaku terlihat jelas bekas pukulan di sejumlah bagian, mulai dari punggung, tengkuk, hingga kepala.

Lebih lanjut lagi, peserta didik yang beragama Kristen sering ditolak beasiswa ke universitas atau akses ke posisi pegawai negeri. Orang-orang Hmong berada di dasar hierarki sosial dan ekonomi di Vietnam, sehingga tingkat pendidikannya oun rendah.

Lokasi tempat tinggal yang terpencil membuat orang Hmong tak mendapat kue pertumbuhan ekonomi Vietnam yang sebenarnya makin kapitalis. Sementara inisiatif pembangunan dari pemerintah lokal kerap berujung mangkrak karena berkelindan dengan prasangka etnik dan stigma sosial. (sumber:tirto.id)