Logo Senin, 14 Oktober 2019
images

Patung Raja Kertanegara. Foto: internet

TABLOIDPEWARNA.com - Prabowo Subianto tak percaya hasil quick count (hitung cepat) semua lembaga survei yang memenangkan Jokowi-Ma'ruf Amin. Dia juga tak menunggu hasil akhir penghitungan manual KPU yang diumumkan selambatnya 22 Mei 2019. Dia mengklaim menang berdasarkan hasil quick count, exit poll, dan real count yang dilakukan tim internal. Sehingga dia mendeklarasikan diri sebagai presiden. Bahkan sampai empat kali deklarasi.

Warganet pun menyindirnya sebagai Presiden Kertanegara, dari nama alamat rumahnya Jalan Kertanegara No. 4, Jakarta Selatan.

Siapakah Kertanegara?

Sri Kertanegara merupakan raja terakhir sekaligus yang terbesar Kerajaan Singhasari. Di bawah kekuasaannya, Singhasari berjaya.

“Kertanegara ini menarik, pada masanya Singhasari berjaya, tapi pada masanya juga Singhasari hancur karena diserang dari dalam,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen sejarah di Universitas Negeri Malang.

Kertanegara dinobatkan menjadi raja muda ketika ayahnya, Raja Wisnuwardhana masih memerintah Singhasari pada 1254. Baru pada 1269, dia mengeluarkan prasasti tanpa menyebut makamangalya ayahnya, yang artinya “di bawah pengawasan”.

Kertanegara diingat sebagai raja yang berani karena menepis secara kasar permintaan tunduk kepada Khubilai Khan, Kaisar Dinasti Yuan yang menduduki Tiongkok setelah 1279. Beberapa kali penguasan Mongol itu mengirim utusan ke Jawa, pada 1280, 1281, dan 1286. Dia menuntut Kertanegara mengakui kekuasaannya dengan mengirimkan anggota keluarga Singhasari ke istananya di Beijing. Namun, Kertanegara justru merusak wajah Meng Qi, utusan Mongol terakhir pada 1289, sebagai wujud penolakan.

Banyak yang meyakini, sebelum berani menolak, Kertanegara sudah berstrategi demi membendung pengaruh Khubilai Khan. Ekspedisinya yang banyak ke luar Jawa adalah cara yang dia tempuh, selain tentu demi mencapai mimpinya meluaskan pengaruh Singhasari.

Enam tahun setelah ditahbiskan, Kertanegara mengirim tentaranya untuk ekspedisi ke Malayu. Dari sini dia berhasil menjalin hubungan dengan kerajaan di Sumatra itu.

Untuk mempereratnya, pada 1286, Kertanegara mengirimkan arca Buddha Amoghapasa ke Malayu sebagai hadiah. Penempatannya di Dharmasraya dipimpin oleh empat orang pejabat tinggi dari Jawa.

Kertanegara juga bersekutu dengan Champa untuk membendung serangan bangsa Tartar, sebutan Pararaton bagi orang-orang Mongol. Dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari 1306 M disebutkan seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi, adik Kertanegara yang menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287-1307).

Keuntungan yang didapat Kertanegara dari kerja sama itu muncul ketika rombongan Mongol ditolak menurunkan jangkarnya di pelabuhan Champa pada 1292. Saat itu mereka hanya berniat menambah perbekalan di tengah perjalanannya ke Jawa.

Kendati begitu, ada yang beranggapan lain. Arkeolog George Cœdѐs dalam Asia Tenggara Masa Hindu Buddha lebih percaya kalau ketika itu Kertanegara pasti merasa dirinya sangat kuat dan jauh dari Tiongkok. Itu membuatnya merasa bisa bertahan dari permintaan Mongol, yang terus-terusan menuntut agar anggota kerajaan Jawa menghadap ke Mongol. Sampai akhirnya dia marah ketika melihat Meng Qi datang ke hadapannya dengan wajah terluka.

Sementara ahli sastra Jawa, C.C. Berg dan Stuart Robson pada tahun 1960-an meyakini Kertanegara sebenarnya tak tahu risiko perbuatannya. Dia tak sadar kekuatan Mongol waktu itu. Menurut mereka pendapat yang mengatakan Kertanegara tahu soal ekspedisi sang kaisar, siap dan mampu memperluas wilayahnya ke utara dan berkonflik langsung dengan Khubilai Khan adalah pendapat yang tak berbukti.

Namun, yang jelas di antara raja-raja Singhasari, Kertanegara merupakan yang pertama melepaskan pandangan ke luar Jawa. Dia meninggalkan politik tradisional yang berkisar pada Janggala-Panjalu. Keinginannya adalah punya kerajaan yang lebih luas dan lebih besar daripada sekadar Janggala-Panjalu warisan Raja Airlangga.

Kertanegara pada akhirnya pun dikenang Nagarakrtagama sebagai raja yang termasyhur namanya. Kata Prapanca, sang penulis, di antara para raja lampau tak ada yang setara dengannya.

“Paham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama, adil, teguh, dan Jinabrata dan tawakal kepada laku utama, itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung,” catat Mpu Prapanca tentang Kertanagara.

Gajah Mada bahkan terinspirasi olehnya. Agus Aris Mundandar dalam Gajah Mada Biografi Politik menulis, ide Kertanagara mendahului Sumpah Palapa yang dikumandangkan patih legendaris Majapahit itu.

“Gajah Mada meneruskan politik pengembangan mandala hingga seluruh Dwipantara atau Nusantara yang awalnya telah dirintis Kertanagara,” tulisnya.

Dwi Cahyono menambahkan, semangat Kertanegara ini bisa dimengerti dengan pemikiran kalau setiap kerajaan apapun itu, menjadikan kebesaran sebagai impian. “Glory itu menjadi spirit,” kata Dwi.

Singhasari, dalam hal ini, juga ingin memposisikan diri sebagai kerajaan yang besar. Hal ini dipertegas dengan penuturan dalam Prasasti Camundi dari 1292 M. Isinya, Sri Maharaja telah puas dengan kemenangan-kemenangannya di semua tempat dan menjadi payung pelindung seluruh dwipantara.

Itulah yang menurut Agus tak banyak diketahui para peneliti selama ini, yaitu watak ahangkara yang dimiliki Kertanegara. Watak ini membuat dirinya bangga dengan kekuatan dirinya sendiri. Dia selalu ingin unggul dari musuh-musuhnya.

“Aku ini kuat, raja besar, selalu ingin unggul dari musuh-musuhnya,” jelas Agus. Watak itu dia tunjukkan dengan menolak tunduk kepada kekuasaan Khubilai Khan.

 

Kejatuhan Kertanegara
Sayangnya, kejatuhannya bukan datang dari wilayah jauh. Raja bawahannya sendiri membelot.

Menurut Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan, gagasan politik penyatuan Nusantara milik Kertanegara itu banyak mendapatkan tantangan dari pihak penganut politik kolot. Mereka menilai keamanan dalam negeri harus lebih didahulukan.

Maka, untuk melancarkan aliran politiknya, Sang Prabu tak segan menyingkirkan para pembesar yang menghalanginya. Berdasarkan Kidung Harsa Wijaya, seperti pemecatan mahamenteri Patih Raganata, patih senior yang sudah menjabat sejak pemerintahan Wisnuwardhana. Pun Wiraraja yang dilorot jabatannya dari demung menjadi adipati di Madura.

“Sang prabu cenderung menerima segala nasihat para menteri baru. Rakyat tak puas dengan sikap yang demikian,” catat Slamet Muljana.

Kertanegara akhirnya dibunuh oleh Jayakatwang, Raja Glang Glang. Jayakatwang merupakan salah seorang keturunan Raja Kertajaya yang jatuh oleh moyang Kertanegara, Ken Angrok. Pemberontakannya, berdasarkan keterangan dalam Kudung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsa Wijaya, adalah hasil hasutan Wiraraja yang dendam. Jayakatwang merasa harus membalaskan dendam leluhurnya.

Padahal Kertanegara bukannya tanpa mengantisipasi. Hubungannya dengan Jayakatwang tetap dijaga secara politik. Dalam Prasasti Mula Malurung disebut, Kertanegara mengambil anak Jayakatwang, Arddharaja sebagai menantu. Pun saudara perempuan Kertanegara, Turukbali menjadi istri Jayakatwang.

Akibatnya, setelah jatuhnya Singhasari akibat serangan Jayakatwang, hubungan dengan berbagai wilayah luar Jawa pun tak berkembang. Singhasari harus binasa di periode kejayaannya bersama matinya Kertanegara. (sumber: historia.id)