Logo Senin, 19 November 2018
images

DR Rudi Pardede SH, MH

IMPIAN menjadi seorang dokter yang diidam-idamkannya sejak kecil pupus sudah. Kondisi keuangan dan ekonomi keluarga jadi penyebab utamanya. Orangtuanya tak mampu untuk membiayai pendidikan tinggi di fakultas prestisius tersebut, karena harus menghidupi anak yang berjumlah delapan orang.

TABLOIDPEWARNA.com - Masa kecil DR. Rudi Pardede, SH., MH bisa dikatakan penuh dinamika. Di usia yang masih bocah, ia harus merantau ke Jambi untuk melanjutkan pendidikan di bangku SMP. Ia tinggal bersama sang kakak yang bermukim di daerah tersebut. Pulang sekolah, Rudi bekerja sebagai anak buah buruh bangunan. Lumayan, ia bisa mendapat uang untuk membantu biaya pendidikan.

Jiwa kerja keras dan tak malu, tampaknya menjadi energi positif baginya. Saat duduk di bangku SMA, Rudi pun sudah pintar mencari uang. Ia aktif melukis lalu hasilnya dijual kepada orang lain. Sebenarnya, kemampuan melukis tersebut bukan merupakan bakat alamiah.

Ia pada awalnya sering melihat orang melukis, lalu kemudian mencoba-coba di rumah. Lukisan buatannya adalah lukisan kaca dan dari bahan karton. Umumnya, berisi hiasan dan ayat-ayat bernuansa Kristiani. Lukisan itu, ia jajakan di kaki lima di kota kawasan Jambi.

"Dulu, kalau waktu Natal, lukisan saya laku keras. Kartu Natal buatan tangan saya pun langsung ludes. Saya bisa dapat uang untuk dipakai memenuhi biaya pendidikan," kata Rudi menceritakan kisah hidupnya saat remaja.

Usai menamatkan SMA di Jambi, bapak tiga anak ini kembali merantau ke Pekanbaru. Ia tinggal bersama saudara ayahnya di Kulim yang membuka usaha lapo (warung) tuak. Namun, saat itu, ia kembali melanjutkan hobi membuat lukisan.

"Saya sempat juga berjualan lukisan di Pasar Bawah. Sampai sekarang masih ingat dengan pelanggan dan penjual bahan lukisan," kata Rudi.

Jalan hidup Rudi baru berubah, manakala ini mencoba masuk dalam seleksi calon bintara (Secaba) Polri pada tahun 1999 lalu. Awalnya hanya mencoba, namun justru ia lolos dan diterima.

"Sungguh itu adalah rencana Tuhan. Saya tak menduga diterima masuk menjadi anggota polisi. Padahal, saya hanya mencoba-coba saja," kata Rudi.

Tak ingin membuang waktu dengan rutinitas kerja, Rudi pun mendaftar masuk menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning (Unilak). Bagi Rudi, menimba ilmu adalah hakekat dari hidup dan tak cepat puas dengan pencapaian yang sudah diraih.

Menurutnya, ilmu hukum utamanya bagi seorang anggota polisi amatlah penting. Itu sebabnya, ia pun kembali melanjutkan pendidikan strata dua (S2) pada 2012 lalu di Universitas Islam Riau.

Terus belajar dan gigih bekerja. Itulah prinsip hidup yang dianutnya. Ilmu adalah sarana pencerahan kemanusiaan. Dengan ilmu, maka cara pandang dan sikap akan berubah. Dengan tekad yang kuat, ketika kesibukannya makin padat, Rudi lantas mengambil pendidikan doktoral ilmu hukum di Universitas Islam Bandung (Unisba) dan dinyatakan lulus menjadi gelar doktor pada awal 2016 lalu.

"Gelar akademik yang melekat dalam nama saya ini sesungguhnya merupakan tanggung jawab moral yang berat. Saya bertanggung jawab mengamalkannya untuk kemajuan institusi tempat saya bekerja, yakni di kepolisian dan saling berbagi ilmu dengan kelompok-kelompok lain," kata Rudi.

Meski hanya berpangkat bintara (Bripka), namun di Polresta Pekanbaru, Rudi sudah diberikan kepercayaan berat sebagai lawyer (pengacara) kepolisian. Hampir tiap pekan, ia hadir di ruang pengadilan untuk mewakili kepolisian dalam menghadapi gugatan-gugatan oleh masyarakat. Misalnya saja, gugatan tata usaha negara, perdata maupun praperadilan.

Dengan predikat akademis doktor dan kemampuan intelektualitasnya, Rudi juga kerap diundang dalam acara seminar dan diskusi hukum. Suami dari Mei Leny Situmorang ini pun kerap menjadi tim ahli dan perumus sejumlah rancangan peraturan daerah serta menjadi tim pendamping panitia khusus (pansus) DPRD.

Ia juga disibukkan dengan aktivitas sebagai dosen (pengajar) di Fakultas Hukum Universitas Riau dan sejumlah kampus lainnya.

"Puji Tuhan, saya dapat mengamalkan ilmu yang ada dalam lapangan pelayanan yang tepat. Sehingga, ilmu yang saya miliki bisa saya bagi. Termasuk di antaranya dalam perumusan kebijakan daerah yang efektif dan berkeadilan," kata Rudi. (*)

 

Perhatian Khusus dari Kapolri
Soal predikat akademik doktor yang sudah diraihnya itu, Rudi Pardede sempat menjadi perbincangan nasional. Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian bahkan cukup kaget dibuatnya. Kapolri yang kala itu baru mendengar ada anggotanya seorang bintara bergelar doktor, langsung menelepon Kapolda Riau untuk memberikan apreasiasi atas pencapaian Rudi.

Hanya dalam hitungan jam saat perintah lisan Kapolri disampaikan, Kapolda langsung menggelar apel besar yang diikuti ratusan anggota polisi di Pekanbaru. Dalam apel tersebut, Rudi dihadirkan dan berbaris persis di samping Kapolda Riau. Rudi pun ditawari untuk melanjutkan pendidikan keperwiraan di kepolisian.


Doktor Pertama dari Desa Parlombuan
Sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik, Rudi Pardede telah menerbitkan buku yang mengangkat isu kerugian negara dalam kasus korupsi. Dalam karya tulis tersebut, Rudi mengangkat fenomena besarnya biaya penanganan kasus korupsi, mulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai pada persidangan. Biaya yang dihabiskan tersebut, menurut Rudi tidak sebanding dengan angka pengembalian kerugian negara atas kasus yang diusut tuntas tersebut.

"Di situ kita masih melihat ada ketimbangan regulasi dan komitmen untuk menjadikan korupsi sebagai musuh besar negara. Ada sesuatu yang janggal dan terasa aneh dalam proses pengembalian kerugian negara akibat korupsi," kata Rudi.

Ia mencontohkan, adanya hukuman subsider (pengganti) kurungan badan atas pengembalian kerugian negara yang harus dibayar oleh terpidana. Hukuman badan pengganti tersebut tidak sebanding dengan besaran uang yang sebenarnya harus dibayarkan oleh terpidana kasus korupsi.

"Misalkan, uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 2 miliar, bisa digantikan dengan kurungan badan hanya lima bulan. Saya kira ini bisa jadi celah, sehingga efek pemberantasan korupsi menjadi tak terasa," tegas Rudi.

Kondisi di Indonesia ini, berbeda dengan pemberantasan kasus korupsi di sejumlah negara lain. Di Hongkong, negara tempat Rudi pernah melakukan kursus dan riset singkat penindakan korupsi, penegakan hukum kasus korupsi, termasuk kerugian negara begitu tegas. Aset-aset terpidana kasus korupsi bisa ditracking dan lantas dibekukan untuk disita bagi negara, apalagi terbukti dari hasil korupsi dan kejahatan lain yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Rudi, lahir di Desa Parlombuan, Tapanuli Utara pada 10 Agustus 1987 lalu. Ia merupakan doktor pertama yang berasal dari kampung tersebut. Ia sekampung dengan tokoh pengusaha beken almarhum TD Pardede, orang kaya yang dikenal dekat dengan Presiden Soekarno.

Aktif dalam Organisasi Sosial
Di tengah kesibukannya yang padat, DR. Rudi Pardede, SH., MH justru masih sempat memberikan waktu untuk kegiatan dan organisasi sosial. Ia menjadi pengurus komunitas marga Sonak Malela Kota Pekanbaru sebagai unsur sekretaris. Selain itu, ia juga merupakan salah satu unsur ketua dalam Tim Advokasi HKBP Distrik XXII Riau.

"Kita adalah makhluk sosial. Sesibuk apa pun, kita harus tetap memberikan waktu untuk orang lain. Apalagi, kalau itu menyangkut urusan sosial dan budaya di mana kita hidup dan tumbuh," kata Rudi Pardede.

Menurutnya, organisasi sosial adalah wadah yang ideal untuk turut memberikan sumbangan dan kontribusi bagi orang lain. Bahkan, dari organisasi sosial itu, Rudi merasa banyak belajar beragam hal, cara berkomunikasi, bergaul dan menempatkan diri secara ideal di tengah-tengah masyarakat.

"Bahwa posisi maupun tingkat pendidikan kita tak lantas membuat kita seakan-akan berada di atas orang lain. Dalam pergaulan sosial, hal itu tak boleh jadi ukuran. Bahwa ketika kita kembali ke tengah masyarakat, maka kita pun harus menempatkan diri sebagai anggota masyarakat umumnya," kata Rudi Pardede. (*)

 

BIOFILE
DR. Rudi Pardede, SH., MH
Tempat/ Tanggal Lahir: Parlombuan, 10 Agustus 1978
Istri: Mei Leny Situmorang
Anak: 3 Orang
Pendidikan:
- S1 Fakultas Hukum Unilak
- S2 Fakultas Hukum UIR
- S3 Universitas Islam Bandung
Pekerjaan:
- Anggota Polresta Pekanbaru
- Lawyer Polresta Pekanbaru
- Dosen Sejumlah Kampus
- Tim Asistensi Ranperda dan Pansus DPRD
- Narasumber dan Penceramah Hukum