Logo Jumat, 23 Agustus 2019
images

Ketua Umum Perkumpulan Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI) yang kini berubah bentuk menjadi Rumah Nawacita, Raya Desmawanto bersama Jenderal (Purn) Moeldoko saat acara kampanye capres Jokowi beberapa waktu lalu. Foto: Pagar PS

TABLOIDPEWARNA.com - Rumah Nawacita menyerukan rekonsiliasi menyeluruh dan tuntas seluruh elemen bangsa dan rakyat yang terpolarisasi akibat pemilu, khususnya pilpres 2019. Dikotomi cebong (pendukung capres #01) dan kampret (pendukung #02) harus diakhiri karena sudah terlalu lama dan amat besar  menguras energi dan memantik potensi perpecahan antar sesama anak bangsa.

RJCI menilai momentum bulan puasa dan puncaknya Idul Fitri 1440 H amat tepat menjadi ajang rekonsiliasi batin, sosial dan politik seluruh elemen bangsa, khususnya antara 'cebong' dan 'kampret'.

"Perseteruan dan pergesekan sesama anak bangsa yang dalam bahasa pilpres disebut perang antara cebong dan kampret harus segera diakhiri. Sudah terlalu lama dan terlalu besar harga yang harus dibayar, ketika kita tak mau menghentikan ego politik akibat perbedaan pilihan dan kepentingan politik di pilpres ini. Idul Fitri memanggil kita untuk kembali akur dalam persaudaraan sejati sesama anak bangsa," kata Ketua Umum/ Pendiri Rumah Nawacita, Raya Desmawanto, M.Si dalam pernyataan tertulis Pesan Kebangsaan Sempena Idul Fitri 1440 H, Jumat (31/5/2019).

Raya menegaskan, pemilu khususnya pilpres sudah sampai pada akhir tahapan yang saat ini sedang berproses di Mahkamah Konstitusi (MK). Prosedur hukum di MK merupakan sarana yang paling tepat dan konstitusional untuk menyelesaikan ketidakpuasan atas hasil pilpres tersebut.

"Semua pihak harus menghormati proses di MK. Lebih baik kita mengakhiri perseteruan jalanan lewat aksi-aksi massa yang berpotensi kuat untuk disusupi dan menjadi tunggangan kekuatan lain yang menginginkan perpecahan bangsa. Sudah saatnya rekonsiliasi sesama anak bangsa pasca pilpres dilakukan," tegas Raya.

Rumah Nawacita yang merupakan metamorfosis (alih bentuk perjuangan) dari Perkumpulan Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI) juga mengingatkan para elit-elit kekuasaan, tokoh parpol, tim sukses dan elit organ negara untuk menghentikan pernyataan provokatif yang bisa menghalangi proses rekonsiliasi di tataran akar rumput.

"Elit-elit jangan lagi membakar emosi rakyat pendukung capres, tapi justru harus menebar kesejukan, pencerahan dan ketenangan. Hentikan pernyataan yang tendensius, menyudutkan apalagi fitnah karena akan membuat akar rumput semakin panas dan suasana riuh. Ini sangat tak produktif," tegas Raya.

Raya menambahkan, dalam situasi saat ini, di tengah kerasnya tantangan dan tekanan global, dibutuhkan soliditas seluruh elemen negara, baik itu kekuatan modal sosial dan politik. Jika saling tuding, saling fitnah dan saling menyalahkan seperti yang saat ini masih terus terjadi, khususnya di lini media sosial, maka pembangunan negara akan terganggu dan tak optimal.

Pembangunan negara, kata Raya membutuhkan situasi sosial politik yang kondusif. Jika energi dan sumber daya alat-alat dan aparatur negara tersita untuk terus mengurusi masalah di seputaran ekses pilpres, maka pembangunan tidak akan efektif dilakukan. Rakyat akan menanggung biaya untuk itu semua, termasuk biaya ekonomi maupun biaya sosial yang besar.

"Ancaman keamanan dalam negara akan semakin membuat ancaman keamanan negara dari luar negeri bertambah besar. Beban negara makin bertambah untuk menciptakan stabilitas keamanan. Maka negara akan semakin tidak efektif dan efisien. Sumber daya negara hanya akan berkutat pada soal itu saja. Oleh sebab itu, rekonsiliasi menyeluruh dan tuntas harus dilakukan, baik dalam tataran akar rumput maupun kalangan elit negara. Agar perjalanan dan pembangunan bangsa ini bisa kembali efektif dikerjakan," pungkas Raya. (rls)