Logo Senin, 19 November 2018
images

Ilustrasi payudara, Foto: dewatanews.com

TABLOIPEWARNA.com - Seorang oknum perawat pria di National Hospital Surabaya meremas payudara seorang pasien wanita. Kejadian ini mendadak heboh karena videonya tersebar di media sosial.
Kejadian pelecehan seksual berupa peremasan payudara wanita oleh pria bukan cuma sekali terjadi.
Bagi kebanyakan pria, jaringan lemak yang berada di bagian dada wanita memang merupakan suatu daya tarik yang sangat menggoda.
Sejauh ini para peneliti masih belum mengungkap secara pasti alasan di balik 'kecintaan' pria pada payudara. Akan tetapi sudah banyak teori dan studi yang mencoba memberikan penjelasan mengenai hal ini.

Dilansir Live Science, Kelenjar susu adalah salah satu ciri khas dari mamalia seperti manusia dan singa. Namun pada manusia, ini menjadi unik. Disadari ataupun tidak, manusia telah memberikan kelenjar susu ini sebuah peran seksual yang besar.
Antropolog Owen Lovejoy berpendapat, evolusi telah memberikan tanda unik di sekitar bagian reproduksi wanita dan pria untuk menarik pasangan. Tak hanya pada organ reproduksi, evolusi juga telah memberi tanda unik seksual pada payudara wanita.
Evolusi menjadikan payudara sebagai cara untuk memberikan sinyal bahwa wanita tersebut memiliki nutrisi yang cukup, menjadikannya sebagai kandidat pasangan yang menjanjikan untuk bereproduksi.

Dalam sebuah studi di tahun 2004, ditemukan bahwa wanita dengan payudara yang besar memiliki tingkat hormon estradiol mid-cycle lebih tinggi. Hormon tersebut diketahui dapat meningkatkan kesuburan seseorang.
Selain itu, ada studi yang menemukan bahwa pria menyukai payudara yang besar serta ukuran pinggang hingga pinggul yang besar. Hal ini mendukung pendapat bahwa wanita dengan bentuk tubuh seperti jam pasir menyampaikan kesan muda dan kesuburan.
 
Alami atau Diajari?
Kendati demikian, masih banyak perdebatan dalam hal ini. Salah satunya adalah tidak diketahui secara pasti apakah payudara dipuja secara universal oleh pria.
Dalam sebuah studi dari 191 kebudayaan pada 1951, antropolog Clellan Ford dan ahli etologi Frank Beach melaporkan bahwa hanya 13 dari ratusan kebudayaan tersebut yang menganggap payudara penting secara seksual bagi pria.
Sebanyak 13 kebudayaan pernah melakukan stimulasi pada payudara saat melakukan hubungan seks. Tetapi hanya tiga kebudayaan di antaranya yang menganggap payudara memiliki daya tarik seksual.
Dalam sebuah buku berjudul "Breastfeeding: Biocultural Perspectives" yang ditulis pada 1995, antropolog Katherine Dettwyler menjelaskan ke kawannya di Mali mengenai kegiatan seksual menggunakan payudara. Dettwyler menceritakan dirinya mendapat reaksi kaget hingga ketakutan saat menjelaskan hal tersebut.
"Mereka menganggap hal tersebut sebagai tidak natural, kelakuan mesum, dan merasa sulit untuk mempercayai bahwa pria dapat terangsang secara seksual oleh payudara wanita, atau wanita merasa nikmat dari aktivitas tersebut," tulis Dettwyler.

Dalam pandangan budaya, pria secara biologis tidak begitu tertarik pada payudara. Tetapi para pria dapat dilatih sejak usia dini untuk menganggap payudara adalah suatu hal yang erotis.
"Manusia dapat belajar untuk melihat payudara sebagai daya tarik seksual. Kita dapat belajar untuk menyukai payudara yang panjang menjuntai atau payudara yang bulat, tegak. Kita dapat belajar untuk menyukai payudara besar," tulis Dettwyler.
Ketertarikan pria pada payudara dalam tiap kebudayaan terbukti berbeda-beda. Sebuah studi pada tahun 2011 mencoba membandingkan preferensi pria pada ukuran dan kesimetrian payudara, serta ukuran dan warna daerah gelap di sekitar puting payudara.
Studi ini dilakukan di Papua Nugini, Samoa, dan Selandia Baru. Hasilnya ditemukan, pria dari Papua Nugini cenderung lebih menyukai payudara yang lebih besar dibandingkan pria dari dua negara lainnya.
Hal ini dikarenakan pria dari Papua Nugini dianggap berasal dari kebudayaan subsisten yang mandiri. Jadi wanita dengan payudara besar dianggap lebih menarik karena saat kesulitan makanan mereka dapat tetap menyusui anaknya.

Kepuasan Seksual?
Tugas utama payudara wanita tentu adalah untuk memberi makan anak. Hal ini membuat para peneliti menduga bahwa ketertarikan seksual pada payudara telah membajak sirkuit saraf menyusui dan menggunakannya untuk tujuan lain.
Larry Young, profesor ilmu penyakit jiwa di Emory University, yang mempelajari dasar neurologis dari sikap sosial, menduga bahwa evolusi manusia telah memanfaatkan sirkuit saraf yang aslinya berkembang untuk memperkuat hubungan antara ibu-bayi saat menyusui.
Namun sirkuit saraf itu kini digunakan untuk memperkuat hubungan antarpasangan. Hasilnya, para pria jadi berkelakuan seperti bayi, menyukai payudara.
Dalam hubungan antara wanita dewasa alias ibu dan bayi, ketika puting susu terstimulasi saat menyusui, neurokimia oksitosin atau "obat cinta" akan membanjiri otak wanita. Hal ini membantu wanita itu untuk memfokuskan perhatian dan kasih sayang pada bayinya.
Namun riset beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa pada manusia, sirkuit itu kini tidak lagi eksklusif bagi bayi saja.

Selain itu, dalam studi terbaru ditemukan bahwa stimulasi puting susu meningkatkan rangsangan seksual pada sebagian besar wanita. Hal itu juga mengaktivasi area otak yang sama saat vagina dan klitoris distimulasi.
Ketika pasangan seksual menyentuh atau merangsang payudara wanita, Young menjelaskan bahwa hal tersebut memicu pelepasan oksitosin di otak wanita, sama saat sedang menyusui. Tetapi dalam konteks ini, oksitosin membuat wanita memusatkan perhatiannya pada pasangan seksualnya, menguatkan keinginan untuk berhubungan dengan pasangannya.
Dengan kata lain, pria dapat menjadikan diri mereka lebih menarik dengan melakukan stimulasi pada payudara wanita. Dan evolusi secara tidak langsung telah membuat pria ingin melakukan hal tersebut.

Young telah mengelaborasi teori ini pada bukunya yang berjudul "The Chemistry Between Us". Ia menjelaskan, ketertarikan pria pada payudara adalah hasil dari evolusi dan telah terjadi ketika pria memasuki masa pubertas.
Namun begitu, Young mengatakan dirinya belum melakukan studi yang cukup untuk mempelajari stimulasi payudara saat melakukan hubungan seksual dalam kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Hal ini menjadikan teorinya yang mengatakan bahwa evolusi telah membuat pria memiliki ketertarikan seksual pada payudara wanita masih dapat diperdebatkan. (kumparan.com)